Perajin Kipas Tradisional Bali, Bertahan Meski Harga Semurah Kacang

Wayan Regig pionir perajin kipas tradisional Bali
Wayan Regig, merupakan pionir atau orang pertama yang memulai usaha kerajinan kipas tradisional di wilayah Sukawati.

Persaingan bisnis oleh-oleh kerajinan khas Bali belakangan kian sengit. Beragam kerajinan ditawarkan, mulai dari lilin hias, wayang, asbak fauna, kotak tisu, pensil hias dan lainnya, yang ternyata berimbas dengan menurunnya peminat kipas tradisional khas Sukawati. Lantas, bagaimana cara perajin kipas bertahan?

“Dulu permintaan kipas ini ramai sekali sekitar tahun 1980 hingga 1990-an. Belakangan mulai surut. Kan sekarang jumlah kerajinan banyak sekali jenisnya, hingga pembeli banyak pilihan mau membeli oleh-oleh khas Bali,” ujar I Wayan Regig, salah seorang perajin kipas dari Sukawati, Gianyar, Bali.

Untuk membuat kipas, membutuhkan bahan-bahan baku seperti bambu, kain dan pewarna. Bambu didatangkan dari daerah Bangli, yang sudah lama dikenal sebagai sentra atau habitat berbagai jenis bambu. Sedangkan bahan kain atau pewarna dapat dengan mudah didapatkan di sekitar Sukawati saja.

Regig, Pionir Usaha Kerajinan Kipas Tradisional di Sukawati

Usaha kipas tradisional di Bali
Pada mulanya, kipas itu diberi motif menggunakan lukisan tangan, sehingga dalam sehari hanya mampu membuat 2-3 kipas saja. Tapi sekarang perajin memilih kipas sablon untuk meningkatkan kapasitas produksi.

Wayan Regig, merupakan pionir atau orang pertama yang memulai usaha kerajinan kipas tradisional di wilayah Sukawati. Pada mulanya, kipas itu diberi motif menggunakan lukisan tangan, sehingga dalam sehari hanya mampu membuat 2-3 kipas saja.

“Ketika permintaan terus bertambah, akhirnya saya membuat kipas bermotif dengan teknik sablon. Biar cepat. Kalau masih bertahan menggunakan lukisan tangan, jelas itu tidak bisa mencapai target permintaan pembeli kalau lagi ramai,” ujar Regig.

Setelah kipas dibuat dengan menggunakan teknik sablon, maka pengerjaan menjadi lebih cepat. Dibantu lima orang tetangga yang menyetor kipas yang sudah jadi, maka dalam sehari rata-rata Regig mampu memproduksi 50 kipas dengan warna mencolok yang menarik.

Baca Juga Artikel Ini :

Industri Kerajinan Kayu di Bali Masih Diminati Buyer Mancanegara

Menuai Sukses Usai Jatuh Bangun Berbisnis Aromaterapi

Semula, kerajinan kipas itu hanya dijual di Pasar Sukawati saja, namun setelah terjadi persaingan penjualan dengan perajin kipas lainnya, maka Regig mulai memperluas wilayah pemasaran. Hingga sampai di Pasar Ubud, Pasar Kumbasari sampai Pasar Kuta.

“Sekarang ini pembuat kipas kerajinan kan banyak sekali. Memang saya yang mengawali, tapi kemudian banyak sekali yang ikut-ikutan membuat kipas seperti saya. Makanya kalau mengandalkan hanya berjualan di Sukawati saja, susah lakunya,” ucapnya.

Seiring makin banyaknya pembuat kipas tradisional, ditambah lagi makin surutnya permintaan, membuat pelaku usaha kerajinan ini satu demi satu berguguran. Meski demikian, Regig tetap bertahan membuat kipas untuk penunjang perekonomian keluarga.

Kipas-kipas ini dijual Regig dengan harga terkecil Rp 3.000, ukuran 20 cm. Kalau ukuran besar, harganya bisa mencapai Rp 500 ribu. Kipas besar ini lazimnya digunakan untuk dekorasi ruangan sehingga mengandung unsur etnik.

Tetap Bertahan Untuk Jaga Tradisi Bali

Deretan kipas tradisional Sukawati dengan warna warni mencolok
Deretan kipas tradisional Sukawati dengan warna warni mencolok

Di samping membuat kipas untuk cendera mata bagi pelancong ke Bali, Regig juga membuat kipas untuk penari yang hendak berpentas setiap ada upacara tradisional. Kipas untuk penari dibuat secara khusus, terutama untuk ukuran dan motif. Biasanya kipas untuk penari dijual seharga Rp 25 ribu.

“Kipas untuk penari tidak setiap hari ada pemesannya. Berbeda kalau kipas cendera mata yang mau dijual ke pasar seni, saya berani bikin untuk stok. Sewaktu-waktu pengepul membeli, pesanan sudah siap. Duluan kalau lagi ramai, seminggu bisa sampai di atas 300 kipas yang dipesan,” ujarnya.

Di tengah himpitan persaingan dengan sesama pembuat kipas, ditambah makin turunnya permintaan, tak membuat Regig ingin beralih untuk membuat kerajinan lain. Baginya, membuat kipas tradisional itu seperti melestarikan tradisi. Mengingat kipas selalu lekat dengan seorang penari Bali.

“Harus saya akui, harga kipas itu sudah seperti harga kacang goreng. Murah meriah. Tapi biarlah saya bertahan. Kalau semua beralih membuat kerajinan lain, nanti kipas makin terpinggirkan. Malah usaha ini nanti diteruskan anak saya,” kata Regig.

Tim Liputan BisnisUKM

(/Vivi)

Kontributor BisnisUKM.com Wilayah Bali

3 thoughts on “Perajin Kipas Tradisional Bali, Bertahan Meski Harga Semurah Kacang”

  1. Halo. Boleh saya minta alamat Bapak Wayan Regig? Saya ingin memesan pola sablon kipas. Saya tunggu jawabannya.
    Terima Kasih

    Reply

Leave a Comment