Inspirasi Bisnis, Video UKM

Pusat Kerajinan Bambu Prinx Mas

PUSAT KERAJINAN BAMBU PRINX MAS

Pohon bambu selama ini identik dengan bahan baku pembuatan rumah/ bangunan. Namun, di tangan-tangan kreatif, bambu ternyata bisa ‘disulap’ menjadi aneka kerajinan cantik yang benilai jual tinggi. Hal itulah yang secara turun temurun ditekuni oleh warga masyarakat Dusun Brajan Sleman. Hampir 90% warga masyarakatnya saat ini menekuni usaha kerajinan bambu dengan berbagai macam desain dan ukuran. Keahlian (skill) mereka dalam memproduksi kerajinan bambu diperoleh dari simbah (nenek moyang) yang sejak dahulu juga dikenal sebagai pengrajin bambu.  

Salah seorang pengrajin yang sejak puluhan tahun lalu mengembangkan produksi kerajinan bambu di Dusun Brajan adalah Bapak Sulisman (51). Pria yang dikenal juga sebagai Pak Dukuh/ Kepada Dusun Brajan tersebut merupakan generasi ketiga sebagai pengrajin bambu setelah simbah dan orang tuanya. “Pada awalnya, mereka (orang tua) hanya mengerjakan pembuatan tempat nasi (bakul) saja, kemudian tahun 90’an kita sebagai generasi penerus mulai mengembangkan produk, baik dari segi desain maupun teknologinya,” jelas Pak Sulis kepada tim liputan bisnisUKM Selasa (8/11). Sentuhan teknologi disini berupa proses pewarnaan, desain, dan penggunaan peralatan modern sebagai media produksinya.

Produk Prinx Mas BrajanDengan ketekunan yang dimiliki seluruh warganya, akhirnya Brajan mulai dikenal sebagai salah satu sentra produksi kerajinan bambu, bahkan secara resmi dikukuhkan sebagai Desa Wisata Kerajinan Bambu Brajan. Bagi Pak Sulisman, dikenalnya Brajan sebagai sebuah desa wisata sedikit banyak mampu mengangkat kesejahteraan para warganya. “Dengan status sebagai desa wisata, akhirnya banyak donatur dan investor yang mau membangun beberapa infrastruktur pendukung di Brajan, diantaranya pembangunan jalan, gapura, dll,” imbuhnya. Sehingga, dengan adanya fasilitas yang lebih layak, banyak wisatawan yang tidak mengalami kesulitan lagi untuk menjangkau lokasi-lokasi kerajinan bambu yang tersebar di seluruh wilayah Desa Brajan.

Sementara untuk Prinx Mas sendiri, Pak Sulisman mengaku saat ini mampu memproduksi ratusan jenis kerajinan setiap bulannya. Produk-produk tersebut antara lain keranjang buah, tempat tissue, keranjang hantaran, tempat nasi, lampu-lampu hias, piring-piring, dll. “Selama ini kami memproduksi sesuai dengan pesanan, jadi jumlahnya tidak menentu, pernah kami memproduksi 7.000 pcs dalam 2 bulan, namun rata-rata berada pada kisaran 100-400 pcs/ bulan,” terang bapak tiga orang putra tersebut. Aneka produk kerajinan tersebut dijual dengan harga Rp.1.500,00-Rp.300.000,00/ pcs, tergantung jenis dan ukurannya. Dengan harga itu, Prinx Mas dalam satu bulan bisa memperoleh omzet 5-10 juta (keuntungan 40-50%).

Strategi Pemasaran Produk

Bapak SulismanProduk kerajinan bambu Prinx Mas saat ini dipasarkan di berbagai daerah, diantaranya Semarang, Bali, Medan, Jakarta, Jawa timur, dll. Sementara untuk komoditas ekspor sudah merambah Malaysia dan Singapura. “Untuk ekspor kami belum bisa secara langsung, jadi masih melalui trading-trading yang ada di Jogja, jadi harapan terbesar kami adalah kami bisa ekspor sendiri produk kerajinan ini ke berbagai negara,” imbuhnya. Oleh karena itu, saat ini Pak Sulis berusaha maksimal menjalankan proses pemasaran dengan dibantu putrinya Ninit Sekar Wangi (25), baik melalui pameran-pameran maupun secara online.

Ninit berujar jika proses pemasaran yang selama ini dijalankanya belum bisa maksimal. “Paling sering melalui pameran, namun itu hanya sebagai media promosi saja, dengan harapan ada buyers yang nantinya tertarik dengan produk kami,” jelas Ninit. Selain melalui pameran, lulusan manajemen pendidikan Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) tersebut juga menggunakan jejaring sosial untuk menjaring para calon pembeli. “Sebenarnya kami dulu pernah memiliki blog, namun karena sesuatu hal, blog tersebut saat ini tidak bisa kami maksimalkan lagi,” imbuhnya.

kap lampu Prinx MasSecara umum, sebagai sebuah usaha kecil menengah, Prinx Mas juga terkadang dihadapkan pada beberapa kendala yang sering menghambat usaha tersebut. “Sebenarnya kendala utama justru di tenaga kerja, karena saat ini generasi muda kebanyakan tidak mau mengikuti jejak orang tuanya untuk menjadi pengrajin, kemudian desain yang masih terbatas, dan pastinya modal usaha,” ujar Pak Sulis. Namun, kendati memiliki beberapa hambatan, Pak Sulisman dan Ninit tetap optimis akan produk kerajinan bambunya tersebut bisa go internasional (ekspor).

Kemudian bagi Desa Brajan sendiri, Pak Sulisman selaku pamong masyarakat berharap agar wilayahnya bisa lebih maju dan tidak ketinggalan dengan daerah lainnya. “Bagi saya pribadi, tidak menjadi masalah ketika buyer membeli produk bukan di Prinx Mas, namun di tetangga-tetangga sekitar, karena tujuan awal kami adalah usaha ini menjadi milik bersama dan untuk kesejahteraan dan pemberdayaan masyarakat,” kata Pak Sulis sekaligus mengakhiri wawancara pada sore hari tersebut.

Tim liputan bisnisUKM