Tas Mote Beromset Puluhan Juta Rupiah

tas-mote-cantik

Banyak pernak-pernik aksesoris kebutuhan wanita, mulai dari anak-anak, remaja hingga dewasa. Mulai dari pakaian, perhiasan sampai dengan dandanan adalah barang yang paling sering diburu oleh kaum hawa.

Salah satu aksesoris yang menjadi incaran wanita untuk bergaya adalah tas tangan. Biasanya dipakai untuk acara pertemuan dan juga untuk acara pernikahan. Model dan jenis bahannya bermacam-macam mulai dari kulit binatang sampai batok kelapa. Salah satu jenis tas yang menjadi mode adalah tas mote yang mempunyai ciri khusus ujung-ujungnya berjumbai beruntaian mote.

Kami berhasil menemui salah seorang pengusaha tas mote di daerah Polanharjo Klaten. Pengusaha tas mote beromset puluhan juta rupiah ini, memiliki nama Taufik Nur Hidayat. Dengan berniat meneruskan usaha yang dirintis oleh keluarganya sejak tahun 1995. Yang pada waktu itu belum ada pengrajin tas mote, bisa dikatakan usaha keluarga Taufik merupakan pioneer dalam bisnis tas mote ini.

Konsumen
Taget pasar kerajinan mote adalah para wanita, karena wanita cenderung menyukai aksesoris. Remaja putri dan para ibu, menjadi konsumen utama bisnis ini.

Info bisnis
Bahan baku yang diperlukan di usaha ini utamanya kain, mote, dan fayet. Semua
bahan ini sekarang bisa diperoleh di dalam negeri, dulu mote yang ada di Indonesia berasal dari negara Taiwan. Beberapa tahun yang lalu berdiri pabrik yang memproduksi mote di Tangerang.

Harga dari kain setiap satu meternya adalah Rp. 4500,-, dengan ukuran tersebut bisa memproduksi tas sebanyak 2 buah. Mote dibeli dengan harga Rp. 8.000,- per pon, bisa memproduksi tas sebanyak 2 buah. Fayet mempunyai harga yang tinggi dibanding bahan lainnya yakni Rp.21.000,- per pon, bisa memproduksi untuk tas sebanyak 10 buah.

Untuk pengerjaannya Taufik bekerjasama dengan masyarakat sekitar dengan upah bervariatif tergantung jenis tasnya, berkisar antara Rp.3.000,- sampai Rp.8.000,- per tas. Selain bekerjasama dengan masyarakat sekitar Taufik juga mempekerjakan 4 orang yang bertugas sebagi tukang lem, mereka rata-rata digaji Rp. 20.000,- per orang per hari.

Saat ini produk yang bisa dihasilkan dalam sebulan paling sedikit adalah seribu buah tas. Harga jual yang dia kenakan kepada pembeli partai adalah yang paling rendah Rp. 6.000,- sampai yang paling tinggi Rp. 25.000,-. Bicara masalah omset Pria Lulusan Teknik Kimia UGM ini menjelaskan bahwa omset terendah yang dia peroleh setiap bulannya Rp. 50 juta dan tertinggi Rp. 100 juta pada tahun 2008.

Kelebihan bisnis
Bahan baku pembuat kerajinan mote, banyak ditemukan di pasaran. Harganya pun cukup murah, jadi produsen tidak mengalami kesulitan untuk pemenuhan bahan baku. Disamping itu pelaku peluang pasarnya masih sangat luas. Bahkan pasar luar negeri juga sudah mulai tertarik dengan kerajinan ini, jadi peluang untuk meraup untung sebanyak mungkin masih sangat terbuka.

Kekurangan bisnis
Kendala yang sering terjadi adalah apabila ada lonjakan permintaan, terjadi kekurangan tenaga kerja untuk menyelesaikan pesanan. Untuk masalah ramai dan sepinya orderan tergantung kebiasaan berbelanja masyarakat. “Kalau mendekati hari raya biasanya sangat ramai, untuk saat-saat seperti ini kondisinya lagi sepi” jelas Taufik sambil tersenyum.

Kendala yang terberat dirasakan oleh Taufik dalam menjalankan usaha ini adalah persaingan yang ketat. “ Dulu kita biasa mengambil keuntungan antara 25% sampai 30%, sekarang paling kita bisa ambil untung antara 10%-15%” pungkas Taufik mengakhiri pembicaraan.

Pemasaran
Produk tas mote ini sudah tersebar dari mulai kota lokal hingga ke luar pulau, bahkan ada pelanggan yang berasal dari Papua. Biasanya pedagang yang bersal dari kota sekitar Solo mendatangi rumah Taufik untuk mengambil tas, tapi untuk luar kota Taufik biasa kirim melalui jasa ekspedisi.

“Baru-baru ini Kami juga dapat pesanan dari Malaysia” kata Taufik. “Tapi kami masih bingung bagaimana  prosedur untuk pengiriman ke luar negeri, karena sebelumnya kita belum pernah mengirim ke luar negeri” tandas Taufik. Penulis kemudian menyarankan kepada Taufik untuk mendatangi kantor bea cukai untuk meminta penjelasan tentang peraturan pengiriman barang ke luar negeri.

Kunci sukses
Kunci kesuksesan bisnis tas mote dapat dicapai dengan adanya kreativitas dan inovasi baru dari para penggrajin. Semakin unik kerajinan tas tersebut, maka semakin banyak pula konsumen yang tertarik dengan produk tersebut. Kemudian jaga kualitas bahan baku yang digunakan, usahakan untuk memilih bahan baku kualitas pertama. Karena bahan baku, juga akan mempengaruhi kualitas produk yang dihasilkan.

Analisa Ekonomi

Pengeluaran :
Bahan baku
Kain : 500 yar x Rp. 4.500,00                       = Rp  2.250.000,00
Mote : 500 pon x Rp. 8.000,00                       = Rp  4.000.000,00
Fayet : 100 pon x Rp.21.000,00                      = Rp  2.100.000,00+
Total Bahan Baku                                    = Rp 10.350.000,00

Tenaga Kerja 
Pengerjaan tas : 1.000 tas x Rp. 8.000,00           = Rp  8.000.000,00
Pengerjaan Pengeleman : 4 orang x Rp. 600.000,00    = Rp  2.400.000,00+
Total tenaga kerja                                  = Rp 10.400.000,00
Total Pengeluaran                                   = Rp 20.750.000,00

Pendapatan : 
Penjualan Tas Mote : 1000 tas x Rp  25.000,00       = Rp 25.000.000,00
Total pendapatan                                    = Rp 25.000.000,00

Keuntungan : 
Rp 25.000.000,00 – Rp 20.750.000,00                 = Rp  4.250.000,00

ROI (Return of Investment)
( modal awal : laba bersih per bulan )              =  ± 3 bulan

sumber gambar : iklanmas.com

23 thoughts on “Tas Mote Beromset Puluhan Juta Rupiah”

Comments are closed.

Bingung Cari Peluang Usaha?

Yuk Gabung Jadi Agen/ Mitra Waralaba