Usaha Membesarkan Ikan Bawal dan Nila

Kolam-pembesaran-ikan-bawal-dan-nila

Kebutuhan pangan di Indonesia dengan jumlah penduduk yang semakin meningkat banyak memberikan peluang bagi siapa saja yang mau memanfaatkannya. Apalagi kekayaan alam Indonesia sangat melimpah sehingga sangat mendukung dalam pengembangan usaha pangan. Sebagai negara beriklim tropis, Indonesia sangat diuntungkan dengan curah hujan yang cukup tinggi sehingga mendukung pengairan baik untuk pertanian maupun perikanan air tawar. Potensi akan kebutuhan ikan air tawar di wilayah Jogja cukup besar dimana selama ini untuk memenuhi kebutuhan tersebut harus dipenuhi dari luar kota.

Pembentukan kelompok Tani Ikan
Berawal dari memanfaatkan kolam ikan peninggalan orang tua yang tidak dimanfaatkan dengan baik, Pak Sudaryo seorang warga Dusun Ponowaren Nogotirto mencoba memanfaatkan kolam ikan tersebut untuk kebutuhan sehari-hari.

Melihat perkembangan usaha pembesaran ikan air tawar cukup bagus, maka Pak Sudaryo menambah 4 kolam lagi dengan memanfaatkan tanah sawah yang dimilikinya. Hasilnya,ternyata hasil dari 1 kolam setara dengan hasil panen padi 1 lahan penuh. Sehingga Pak Sudaryo mulai mengajak sauadara-saudara dan tetangganya untuk mengembangkan usaha ini sehingga terbentuklah kelompok tani Mina Sejahtera yang secara resmi berdiri 3-4 tahun yang lalu dan beranggotakan 40 orang.

Jenis ikan yang dibudidayakan olek Mina Sejahtera adalah bawal dan nila yang relatif mudah pemeliharaannya dan cepat siklus panennya ±2 bulan. Kelompok tersebut memiliki 36 kolam dan 4 kolam terpisah dimana 1 kolam bisa menghasilkan 50-80 kg sekali panen dimana setiap kolam ditebar bibit ±1000 ekor ikan yang berukuran 15-40 ekor/ kg.

Bibit tersebut diperoleh dari kelompok tani Burikan dan dinas perikanan Rewulu. Harga bibit bawal Rp 20.000,- dan nila Rp 25.000,- per kg. Sedangkan untuk pakannya dilakukan substitusi, terutama pakan alami dari daun-daunan dan sisa makanan rumah tangga serta industri makanan. Sebagai nutrisi, digunakan ikan teri rancah.

Pakan alami tersebut mereka peroleh dari daerah sekitarnya. Sedangkan pakan pabrikan hanya sedikit yang digunakan. Berdasar pengamatan mereka, penggunaan pakan alami lebih efektif dan kualitas ikan lebih baik terutama untuk bobot ikan dan rasanya lebih gurih. Biaya pakan yang dibutuhkan selama 1 siklus total 20% dari harga jual. Pada proses pemeliharaannya, masing-masing anggota mengelola sendiri kolamnya. Saat panen, mereka saling bergotong royong membantu memanen anggota lainnya sehingga untuk tenaga kerja tidak membutuhkan biaya besar.

Proses budidaya pembesaran ikan bawal dan nila cukup sederhana. Setelah panen, kolam dikeringkan yang bertujuan untuk membunuh bakteri-bakteri yang ada dan meningkatkan kandungan oksigen dalam tanah. Agar hasil lebih maksimal, ditambahkan pupuk kandang untuk menciptakan plankton yang berfungsi sebagai pakan bagi bibit ikan. Kemudian kolam diairi air dan bibit siap ditebarkan.

Pemanfaatan air di saluran irigasi sekunder untuk pengairan kolam ikan tidak sampai mengganggu irigasi pertanian karena air dialirkan kembali menuju irigasi pertanian. Untuk 1 meter persegi, idealnya populasi ikan 50 ekor. Disesuaikan dengan ransum dan sirkulasi air dimana sirkulasi air mempengaruhi kandungan oksigen sehingga berpengaruh terhadap nafsu makan dan pertumbuhan ikan. Bibit diberi pakan pabrikan dan kombinasi daun singkong.

Proses Pembesaran Ikan
Pada proses pembesarannya, kolam yang dipakai oleh setiap petani berbeda. Bila hanya menggunakan 1 kolam, maka dilakukan penjarangan. Panen ikan dilakukan secara bertahap supaya populasi ikan dalam 1 area bisa optimal. Sedangkan bila menggunakan beberapa kolam, maka setelah mencapai ukuran tertentu, ikan dipindahkan ke kolam yang telah disiapkan. Untuk bibit ikan yang berukuran besar, terkadang diberi pakan menggunakan gulma yang ada di tanaman padi. Ikan dikatakan siap panen bila berukuran 2-3 ekor/kg supaya harga jual maksimal.

Keunggulan budidaya Mina Sejahtera ada di ransum yang variatif, biaya produksi lebih murah dan rasa ikan yang lebih gurih serta bobot ikan lebih baik. Ransum tersebut tidak sengaja diciptakan secara khusus tetapi karena penyesuaian kondisi ekonomi masyarakat sehingga mereka mencoba untuk menemukan pakan alternatif.

Pembeli hasil panen mereka mayoritas pedagang ikan yang kemudian mereka distribusikan ke rumah makan atau pemancingan. Harga jual ke pedagang besar tersebut berkisar Rp 9500/kg untuk bawal dan untuk nila Rp10.000-Rp.12.000/kg. Padahal di tingkat pembeli rumah makan atau pemancingan, harga bawal mencapai Rp.12.000,-/kg dan nila Rp.15.000,-/kg. Setiap penjualan dikenakan fee 5% untuk kas kelompok tani.

Konsumen
Konsumen yang biasa mencari ikan nila dan bawal adalah pedagang pasar dan rumah makan yang sudah menjadi pelanggan tetap. Selain itu konsumen Mina sejahtera adalah para tetangga maupun masyarakat sekitar desa  yang membutuhkan ikan untuk dikonsumsi sehari – hari.

Kelebihan bisnis
Dengan kondisi aliran irigasi yang cukup baik untuk pembesaran ikan, wilayah tersebut sangat prospek untuk budidaya ikan air tawar seperti bawal dan nila. Selain itu, kelebihan budidaya ikan air tawar dibanding binatang ternak yaitu tidak membutuhkan modal yang cukup besar tetapi hasilnya cukup maksimal serta pemeliharaan yang relatif mudah.

Kekurangan bisnis
Kendala yang dihadapi dalam usaha budidaya pembesaran ini yaitu pengembangan usaha terbatas lahan,masyarakat belum terbuka untuk beralih ke perikanan daripada pertanian padi. Selain itu dalam proses  pemasaran, sulit untuk memutus rantai penjualan langsung ke pembeli akhir dan di satu sisi biasanya pembeli, seperti pihak rumah makan atau pemancingan, meminta suplai rutin setiap bulannya yang tidak bisa dipenuhi oleh petani sampai saat ini. Saat ini dirasa juga perlu penyeragaman harga jual dalam kelompok tani supaya harga tidak dipermainkan tengkulak. Hanya saja kebutuhan uang yang mendesak terkadang membuat petani menjual cepat dengan harga murah.

Pemasaran
Selama ini pemasaran yang dilakukan Mina Sejahtera melalui jaringan rekan kerja. Ikan bawal dan nila yang telah besar, langsung dibeli para pedagang ikan di pasar maupun pelaku usaha makanan yang menyajikan menu ikan. Namun tak jarang juga para masyarakat sekitar lokasi usaha yang mengetahui informasi keberadaan Mina Sejahtera dari promosi mulut ke mulut, membeli ikan untuk kebutuhan konsumsi sehari – hari di Mina Sejahtera. Para masyarakat memilih membeli dengan datang langsung ke Mina Sejahtera, karena harga jualnya lebih murah dari harga ikan yang ada di pasaran

Rencana Pengembangan Usaha
Rencana ke depan, kelompok tani sedang mengajukan proposal ke dinas perikanan untuk pengembangan kolam penampungan yang akan digunakan untuk pembelian hasil panen anggota untuk menampung sementara supaya harga jual bisa maksimal. Selain itu juga mencoba memberi peluang usaha untuk penjualan eceran akan diperluas ke perumahan-perumahan di sekitarnya. Karena kolam belum siap, kolam yang ada dimanfaatkan dengan bekerjasama pengelolaan dimana bibit disediakan oleh kelompok, dipelihara salah 1 anggota, kemudian setelah dipotong biaya bibit, sisanya bagi hasil 40% untuk kelompok tani dan 60 untuk pengelola.

Kunci sukses
Untuk membantu perkembangan usaha ini, sebaiknya pilih tenaga kerja yang memiliki pengetahuan pembesaran ikan bawal maupun ikan nila. Bila perlu adakan pelatihan terlebih dahulu, karena perawatan yang tepat juga mempengaruhi kualitas ikan yang dihasilkan. Selain itu pilih lokasi yang dekat dengan sumber air, karena usaha membesarkan ikan bawal dan nila membutuhkan pengairan yang bagus.

Analisa Ekonomi

Asumsi : 
Penebaran bibit tiap jenis setiap 1.000 ekor.
Tingkat kematian dari penebaran sampai panen 25%.
Pengeluaran pakan sebesar 20% dari harga jual. Ukuran konsumsi 3 ekor/kg.

Pengeluaran
Pembelian bibit bawal     : 40 kg x Rp 20.000,00          : Rp   800.000,00
Pembelian bibit Nila      : 40 kg x Rp 25.000,00          : Rp 1.000.000,00+
Total biaya Bibit                                         : Rp 1.800.000,00

Pakan
Pembelian pakan           : 20% x Rp 5.125.000,00         : Rp 1.025.000,00
Biaya Penjualan           :  5% x Rp 5.125.000,00         : Rp   256.250,00+
Total                                                     : Rp 1.281.250,00
Total Pengeluaran
Rp 1.800.000,00 + Rp 1.281.250,00                         :Rp 3.081.250,00

Pendapatan 
Penjualan Ikan Bawal      : 250 kg x Rp 9.500,00          : Rp 2.375.000,00
Penjualan Ikan Nila       : 250 kg x Rp 11.000,00         : Rp 2.750.000,00+
Total Penjualan                                           : Rp 5.125.000,00

Keuntungan 
Rp 5.125.000,00 - Rp 3.081.250,00             =        Rp 2.043.750,00

(Sumber : Tim bisnisUKM)

30 Komentar

  1. numpamg nanya,saya pelihara ikan bawal ada 1500ekor,untuk pakan saya mau kasih limbah dari aym potong seperti kepala usus ati ampela kira kira tu ikan mau ndak ya, soalnya belum aku coba,karena umur ikan baru 1bln,pingin mencoba takut kalau ndak mau makan trus air jadi bau dan kotor

  2. asslamulkm….

    saya numpang tanya ..
    kalau ikan bawal saya sudah siap panen,kemana saya harus jual? untuk daerah jabar & jateng?
    tolong kalau ada yang tau email’in alamat & no tlp’nya ke s.mu91p_jw@yahoo.co.id
    trimakasih.

  3. kenapa ikan bawal kecil ukuran 5 inch tidak mau makan kangkung dan pelet, itu disebabkan karena apa???

  4. kenapa ikan bawal aku gak makan,,,,,
    di sebabkan karena apa,,,,,,,
    minta tolong kasi sarannya….

  5. Assalamualaikum,
    Pak dimana saya bisa mendapatkan bibit bawal yg baik, berapa harga bibit dan dipasarkan kemana ?
    Empang dgn luas 500 m2 idealnya dgn jumlah ikan berapa pak ?
    Mohon infonya ke email : waah52@yahoo.co.id
    Terima kasih

Comments are closed.