Pendidikan yang tinggi bukanlah syarat mutlak seseorang untuk bisa sukses menjadi pelaku bisnis/ entrepreneur. Banyak pebisnis yang sukses menjalankan usahanya meskipun tidak memiliki basic pendidikan yang memadai. Kondisi tersebut juga dialami oleh Widadi (33) yang sukses mengembangkan bisnis kreatifnya, dengan berbekal ijazah kejar paket B (setara SMP). Tekad kuat untuk bisa hidup mandiri serta tidak bergantung dengan orang lain, menjadi motivasi utamanya ketika memutuskan untuk terjun dalam usaha yang memproduksi kerajinan miniatur kapal dari bambu.

Adie Craft menjadi nama usaha yang kemudian mengantarkan Widadi tumbuh menjadi seorang produsen kerajinan miniatur kapal yang diminati pasar. Skill otodidak menjadi modal awal dirinya ‘nekat’ mendirikan usaha yang berlatar belakang kreativitas tersebut. “Setelah putus sekolah, saya lebih sering menjadi buruh bangunan untuk menyambung hidup, namun ketika melihat pelatihan kerajinan itu (miniatur kapal) di sebuah Lembaga Permasyarakatan (LP), hati saya tergerak untuk ingin mempelajarinya,” ujarnya. Saat itu, Widadi sempat menjadi buruh bangunan pada sebuah LP, dan sesekali mengamati sesi pelatihan ketrampilan yang biasa diberikan untuk penghuni LP, termasuk salah satunya pelatihan pembuatan miniatur kapal.

Setelah mempelajari seluk beluk produksi miniatur kapal itu, Widadi memberanikan diri untuk memperkenalkan produk ciptaannya  di Bantul Expo 2001. “Meskipun belum sempurna   pengerjaannya, saya memberanikan diri untuk ikut serta dalam Bantul Expo, dan tidak menyangka ternyata ada beberapa yang laku,” jelasnya kepada tim liputan bisnisUKM, Rabu (28/12). Melihat respon pasar yang positif, Widadi merasa tertantang untuk mulai menekuni produksi miniatur kapal secara serius. Di rumahnya Kepek Sewon Bantul, Widadi kemudian mengumpulkan referensi beberapa model kapal yang sekiranya bisa dikreasi.

Info Produk Adie Craft

Dengan bahan baku utama dari bambu, Widadi saat ini memiliki 4 jenis miniatur kapal beragam ukuran. Keempat jenis tersebut yaitu pinisi, capit urang, brajamusti, dan arum tidar. “Mengapa saya menggunakan bambu, karena bahan bakunya melimpah dan murah, kemudian teksturnya juga lebih berkarakter jika dibandingkan dengan kayu yang biasa digunakan untuk produksi kreasi sejenis (miniatur kapal),” ujar suami dari Nani Rahayu Purnama (23) tersebut. Selama ini, Widadi memperoleh bahan baku dari lingkungan tempat tinggalnya yang masih sangat asri dengan rimbunan pohon bambu.

Untuk mengembangkan usahanya, saat ini Widadi tidak hanya memproduksi miniatur kapal dari bambu. Persaingan pasar yang semakin sengit ‘memaksa’ dirinya untuk mengkreasi produk lain yang layak jual. “Kami berusaha untuk mengikuti selera pasar yang ada, dan saat ini ada 5 jenis produk lain disamping miniatur kapal yang rutin kami produksi,” imbuhnya. Produk-produk tersebut antara lain box love dari bambu, asbak rokok dari bambu, pigura dari gypsum, box tissue dari bambu, dan sepeda ontel dalam botol.

Dengan dibantu 3 orang tenaga produksinya, Widadi mampu memproduksi 6 buah kapal, 66 buah pigura, 40 sepeda ontel dalam botol, ratusan box tissue, dan ratusan asbak setiap bulannya. “Tenaga produksi lebih saya arahkan untuk membantu membuat sepeda ontel dalam botol, karena itu termasuk produk baru, sementara yang lainnya masih bisa saya handle sendiri,” jelasnya. Meskipun peralatan yang digunakan masih sederhana, namun Widadi selalu berusaha memenuhi segala bentuk pesanan dengan tepat waktu.

Harga yang dipatok Widadi untuk setiap kategori produknya cukup bervariasi, tergantung Widadijenis dan ukurannya. “Untuk miniatur kapal harganya berkisar Rp.35.000,00 – Rp.150.000,00/ pcs; box love Rp.7.000,00 – Rp.15.000,00/ pcs; box tissue Rp.8.000,00 – Rp.10.000,00/ pcs; asbak Rp.3.000,00/pcs; pigura gypsum Rp.15.000,00/pcs; dan sepeda ontel dalam botol Rp.15.000,00/ pcs,” jelas Widadi. Selama ini, dirinya memasarkan produknya ke beberapa swalayan dan toko kerajinan di Jogja dengan sistem konsinyasi. Sementara, untuk pemasaran ke luar kota sudah merambah ke Jambi, Kalimantan, Sulawesi, Jakarta, dan Surabaya.

Dalam sebulan, Widadi mengaku bisa memperoleh omzet penjualan rata-rata 2 juta Rupiah, dengan keuntungan 70%. “Karena lebih banyak nitip di swalayan dengan sistem konsinyasi, untuk omzet pastinya memang tidak bisa diprediksi, bisa jadi dalam musim liburan seperti saat ini, produk kami yang laku terjual akan lebih banyak lagi,” tambahnya. Meskipun begitu, dirinya tetap mensyukuri berapapun keuntungan yang diperolehnya setiap bulan. Sembari berharap, jangkauan pemasaran ke depannya akan semakin luas lagi, bahkan bisa mampu menembus pasar mancanegara.

Tim liputan bisnisUKM