Apa yang Anda bayangkan ketika mendengar kerupuk lele? Banyak yang tidak menyangka kalau ikan yang dikenal dengan patil tajamnya ini bisa dibuat kerupuk yang renyah dan gurih. Kita bisa menjumpai produsen kerupuk lele tersebut di Daerah Pakem Sleman Yogyakarta. Adalah kelompok Artha Mina yang saat ini beranggotakan 3 orang berhasil mengembangkan diversifikasi produk ikan lele menjadi berbagai produk lain yang bernilai jual lebih. Lele yang selama ini dikenal sebagai ikan budidaya ternyata bisa dikembangkan menjadi produk makanan seperti kerupuk lele, pepes lele, abon lele, lele biscuit, burger lele, bakpao lele, lele kremes, dan lele nugget.

Berawal dari usaha yang dikembangkan oleh rekan-rekannya, saat ini kelompok Artha Mina menjadi satu-satunya kelompok yang masih bertahan memproduksi aneka olahan masakan berbahan lele.  Ketika tim bisnisUKM mengunjungi lokasi produksi kerupuk lele tersebut (13/1), kami langsung disambut oleh Ibu Anna Elisabeth Sri Dadi (66) selaku koordinator kelompoknya. Ibu yang masih energik dengan dua orang cucu tersebut  semangat sekali ketika menjelaskan alasan mengembangkan olahan lele kepada tim. “kita berfikir kalau udang, tengiri itu bisa dijadikan produk kerupuk, kenapa lele tidak bisa, padahal sama-sama ikan”, begitu awal mula pemikiran Ibu Elisabeth tentang produksi kerupuk lelenya.

Peluang usaha produksi aneka olahan lele tersebut sudah dijalani kelompok Artha Mina sejak tahun 2008. Di tahun awal produksinya, kerupuk lele pernah mengalami masa jayanya sekitar tahun 2008 dan 2009.  Seiring dengan makin menurunnya tingkat ekonomi dan konsumsi masyarakat akhir-akhir ini, penjualan produk olahan lele pun mengalami penurunan drastis. Namun, kelompok Artha Mina masih bertahan memproduksi olahan lele tersebut karena menurutnya ikan lele termasuk ikan yang mudah didapat dan murah harganya.

Proses produksi kerupuk lele sebagai produk andalan dari kelompok Artha Mina tidaklah sulit untuk dikerjakan. Membutuhkan waktu kurang lebih dua hari untuk menghasilkan kerupuk mentah kering yang berkualitas. Lamanya waktu produksi juga ditentukan dengan proses pengeringan yang masih menggunakan tenaga matahari yaitu dengan dijemur. Untuk tahapan adonannya, bahan-bahan yang digunakan juga banyak di pasaran seperti tepung tapioka, bumbu masak, dan minyak kelapa. Dan yang menjadi keunggulan dari kerupuk lele produksi Artha Mina, semua bagian dari lele digunakan sebagai bahannya termasuk duri dan kepala dari ikan lele tersebut. “Duri dan kepala kita ikutkan sebagai bahan produksinya karena mengandung kalsium tinggi dan cocok untuk ibu hamil, balita, hingga lansia karena kandungan kalsium di dalamnya bisa mengurangi resiko terkena osteoporosis”, begitu penjelasan dari Ibu Elisabeth.

Bagi Ibu Elisabeth yang memiliki basic seorang perawat, faktor kesehatan menjadi hal utama dalam menghasilkan produk-produknya. Oleh karena itu penggunaan bahan-bahan alami juga menjadi prioritas kelompok ketika memproduksi olahan masakannya. Dan saat ini, Ibu yang berasal dari Purworejo tersebut berharap agar perekonomian negeri ini semakin membaik sehingga daya beli masyarakat akan pulih seperti sediakala.

Proses pemasaran produk juga menjadi kendala tersendiri bagi kelompok Artha Mina dalam memasarkan produknya. Berbagai hal tekait dengan pemasaran sudah pernah dijalankan oleh kelompok Artha Mina. “Kita pernah masuk supermarket, swalayan, hingga pasar-pasar namun karena biaya sewanya lumayan mahal kita memutuskan untuk menghentikannya”, imbuh Ibu Elisbeth. Namun, kelompok Artha Mina sedikit banyak terbantu dengan seringnya ikut pameran-pameran baik yang diselenggarakan skala lokal maupun regional. Dan menurut Ibu Elisabeth, dari beberapa kali mereka ikut pameran, produk aneka olahan lelenya termasuk laku keras. Sehingga, sampai saat ini beliau masih tetap optimis untuk tetap bertahan dengan produksinya dibantu oleh dua orang rekannya. Salut untuk Ibu Anna Elisabeth.


Tim Liputan BisnisUKM