kerajinan kuninganKuningan dikenal sebagai bahan baku kerajinan yang bisa diolah menjadi aneka produk bernilai jual tinggi. Berbagai macam produk seperti perhiasan, hiasan dinding, aneka miniatur, hingga gamelan menjadi kreasi yang banyak dibuat dari bahan kuningan. Dari aneka macam kerajinan tersebut, perhiasan menjadi salah satu produk yang banyak dibuat dan dipasarkan dewasa ini. Salah satu perajin perhiasan yang menggunakan kuningan sebagai bahan baku utamanya adalah Ibu Suparjilah (56). Warga Pringgolayan Banguntapan Bantul itu sejak tahun 1980 menekuni produksi perhiasan imitasi berbahan baku kuningan dan perak.

Ditemui di rumahnya Sabtu (4/6), Ibu Suparjilah menuturkan awal mula menekuni produksi kerajinan berbahan baku kuningan tersebut. “Tahun 1978 sampai dengan 1980 saya masih ikut orang sebagai tenaga produksi kerajinan kuningan, setelah berjalan dua tahun saya memutuskan untuk menekuni usaha tersebut sendiri dengan dibantu keluarga,” terang Ibu Suparjilah kepada tim liputan bisnisUKM. Keputusan untuk mandiri ternyata mampu mengangkat perekonomian keluarga Ibu Suparjilah yang setiap bulan rutin memproduksi ratusan model perhiasan seperti aneka bros, anting-anting, tusuk konde, mahkota, kalung, set perhiasan pengantin, dll.

perhiasan imitasiBerada dekat dengan Kotagede yang selama ini dikenal sebagai sentra kerajinan perak dan kuningan, membuat Ibu Suparjilah dengan mudah mengetahui perkembangan model terbaru kreasi kerajinannya. “Kami selalu mengupdate perkembangan model agar tidak ketinggalam jaman, karena hal itu sangat berpengaruh terhadap permintaan konsumen,” jelasnya. Selain dari wilayah Kotagede, beliau selama ini juga memantau perkembangan model perhiasan melalui media televisi. Alhasil, banyak produk kreasi Ibu Suparjilah yang dinamai dengan nama-nama artis seperti Konde Luna Maya, Keong Racun, Indra Bekti, Cyntia Sari, dll. Pemberian nama tersebut sedikit banyak memberikan pengaruh kepada konsumen karena mampu menimbulkan rasa penasaran.

Saat ini, dalam mengerjakan produksi rutin dan pesanan, Ibu Suparjilah dibantu beberapa orang tetangganya untuk mengerjakan proses hingga setangah jadi. “Mereka membuatnya di rumah, setelah menjadi produk setengah jadi, mereka menyetorkan karya tersebut ke saya untuk dilakukan proses finishing,” terang ibu 6 orang putra tersebut. Proses finishing yang dilakukan adalah penyepuhan atau electroplating dengan lapisan perak dan emas. Proses penyepuhan dilakukan oleh tiga orang putra Ibu Suparjilah di halaman belakang rumahnya.

Pemasaran Produk

perhiasan pengantinProduk jadi hasil kreasi Ibu Suparjilah kemudian dipasarkan di Pasar Beringharjo, Solo, hingga Surabaya. “Saya memasarkan produk ke Surabaya rutin sekali dalam seminggu, sementara untuk Pasar Beringharjo bisa setiap hari,” imbuhnya. Harga yang ditawarkan Ibu Suparjilah cukup bervariasi, semuanya tergantung bahan baku yang digunakan. Untuk satu set perhiasan pengantin, beliau menjualnya dengan harga Rp.250.000,00-Rp.1.500.000,00/set. Untuk produk lainnya seperti Konde Luna Maya harganya Rp.200.000,00; Indra Bekti Rp.300.000,00; Keong Racun Rp.250.000,00; Konde Biasa Rp.17.500,00; Mahkota Melati Rp.75.000,00; dan Aneka Bros harganya Rp.100.000-Rp.110.000,00. Dengan harga yang tergolong kompetitif, Ibu Suparjilah mengaku dalam sebulan bisa memperoleh omzet rata-rata 30 juta dengan keuntungan 20 %.

cincin perakDiakui Ibu Suparjilah, saat ini kompetitor dalam bisnis perhiasan imitasi tersebut sangat banyak. Masing-masing menawarkan produk dengan berbagai kelebihan dan kekurangan yang dimiliki. “Oleh karena itu, meskipun berada dalam wilayah Kotagede, saya tidak pernah memasarkan produk kami ke sana karena tingkat persaingan yang sangat tinggi, saya lebih senang mencari pasar yang belum tersentuh kompetitor lainnya,” imbuhnya. Dengan strategi itu, beliau sudah memiliki pelanggan tetap yang rutin membeli produknya. Menurutnya, produk kreasinya itu akan mengalami peningkatan penjualan ketika Bulan Agustus dan Hari Kartini. Karena pada momentum tersebut, banyak orang yang mencari aksessoris perhiasan imitasi untuk perlengkapan pentas dan karnaval.

Di akhir wawancaranya, Ibu Suparjilah berharap usahanya tersebut masih  bertahan dengan aneka model terbaru dan mengikuti perkembangan jaman. Kendati terkendala modal dan pemasaran, beliau cukup yakin mampu bersaing dengan produk pabrikan yang makin merajalela di pasaran.


Tim liputan bisnisUKM