kerajinan kayu panelKerajinan kayu (woodcraft) bagi masyarakat Indonesia merupakan produk yang sudah lama ditekuni dan menjadi salah satu kekayaan seni kriya yang dikenal hingga ke mancanegara. Daerah-daerah seperti di Kalimantan, Jawa Tengah, Sulawesi, Bali, dan Papua memiliki jenis kerajinan kayu yang berbeda-beda sehingga makin menambah keragaman budaya negeri ini. Kerajinan kayu (woodcraft) tersebut ketika ditekuni ternyata bisa menjadi sebuah usaha yang memiliki prospek menjanjikan, terutama bagi daerah yang selama ini menjadi salah satu tujuan wisata baik domestik maupun mancanegara.

Peluang itulah yang selama ini ditekuni Aris Suryono (39) dengan memproduksi kerajinan berbahan baku kayu sejak tahun 1997. Memiliki latar belakang keluarga pengrajin relief kayu, Aris muda mencoba mengembangkan skillnya dengan kuliah di Jurusan Kriya Seni di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Setelah lulus, beliau mulai mengaplikasikan ilmu yang didapatnya semasa kuliah dengan membangun bisnis kerajinan kayu “Gendhewa Woodcraft”. “Sewaktu kuliah saya sering membantu dosen untuk membuat berbagai kerajinan kayu, sehingga ketika lulus saya mencoba mengembangkan ilmu tersebut dengan membuat usaha sendiri,” terang Pak Aris kepada tim liputan bisnisUKM Rabu (11/5).

kerajinan kayuDi rumahnya Kuncen Yogyakarta, Pak Aris membuat kerajinan kayu berbahan baku kayu mahoni. “Alasan penggunaan kayu mahoni karena memiliki karakter lebih mudah diproduksi dan lebih murah,” jelas bapak dua orang putri tersebut. Kayu mahoni yang dibeli dari toko kayu lokal Jogja dikreasi menjadi berbagai macam produk seperti Panel (hiasan dinding), tempat surat, gantungan baju, cermin, dan lampu. “Saat ini kami lebih fokus mengerjakan panel (hiasan dinding) karena permintaan yang masih stabil,” imbuh pria asli kota ukir Jepara tersebut.

Dibantu empat orang tenaga produksinya, Pak Aris mampu menghasilkan rata-rata 500 buah produk kerajinan kayu berbagi jenis dan ukuran setiap bulannya. “Produksi kami 50 % melayani pesanan dan 50 % untuk stok produk untuk dibawa saat ada pameran baik di Jogja maupun di luar kota,” jelas Pak Aris yang ditemani istrinya Praptiningsih (35) sore itu. Diakui Pak Aris, membuat kerajinan kayu membutuhkan ketelatenan dan ketekunan ekstra karena detail produk harus diperhatikan dengan cermat. “Tidak semua orang bisa mengerjakan beberapa tahapan dalam pembuatan kerajinan kayu, sehingga hal itu bisa menjadi sebuah kelemahan sekaligus keunggulan bagi pengrajinnya,” imbuh Pak Aris.

Proses produksi Aneka Kerajinan Kayu

proses produksi kerajinan kayuUntuk memperoleh hasil kerajinan yang memiliki karya seni tinggi, Pak Aris mencoba menguraikan tahapan-tahapan produksinya. Tahapan pertama adalah penentuan ide desain produk. Berikutnya dilanjutkan dengan pembuatan pola pada sebuah kertas sesuai dengan ukuran dan bentuk produknya. Pola tersebut dipotong dan ditempelkan pada papan (kayu) yang sudah dipersiapkan sebelumnya. Langkah berikutnya yaitu proses penggergajian sesuai dengan detail polanya. Setelah digergaji, produk tersebut diukir untuk menyempurnakan bentuknya. Kemudian dilakukan pembakaran untuk menghaluskan dan mengeringkan kayu. Hasil pembakaran yang meninggalkan hitam gosong digosok dan dihilangkan. Tahapan selanjutnya pemberian cat dasar warna hitam pada produk yang sudah berbentuk. Dan yang terakhir pengecatan sesuai dengan warna aslinya.

Untuk ide desain produknya, Pak Aris lebih banyak mengangkat kehidupan tradisional atau aktivitas sehari-hari masyarakat kita. “Aktivitas menggembala kambing, kerbau, membajak sawah, bersepeda, dll menjadi desain produk yang selama ini kami angkat,” tambah Pak Aris. Diakuinya harga produk kerajinan buatannya cukup terjangkau, yaitu berkisar Rp.10.000,00-Rp.135.000,00/ pcs untuk hiasan dinding; sementara untuk produk seperti cermin bisa mencapai Rp.500.000,00/ pcs tergantung ukuran dan detail produknya. “Dalam kondisi stabil, kami bisa memperoleh omzet rata-rata 5 juta rupiah/ bulan,” jelas istri Pak Aris sembari tersenyum.

produk kerajinan kayuDiakui Pak Aris, modal dan proses pemasaran menjadi kendala utama usahanya selama ini. “Kendala klasik bagi pelaku UKM seperti kami pasti di modal dan pemasaran, dan sampai saat ini kami belum bisa maksimal dalam memasarkan produk kerajinan kami,” begitu kata pria yang pindah ke Jogja tahun 1991 tersebut. Dalam memasarkan produknya, Gendhewa Woodcraft sering ‘dibawa’ pemerintah untuk ikut serta dalam beberapa kali pameran kerajinan. Terakhir Gendhewa Woodcraft ikut serta dalam pameran yang diadakan Dekranas di Makassar Sulawesi Selatan.

Di akhir wawancaranya, Pak Aris berharap suatu saat nanti bisa memiliki workshop sendiri sebagai tempat pemasaran kerajinan kayunya. Menurutnya, di wilayah Jogja sendiri saat ini hampir tidak ada saingan yang memproduksi kerajinan sejenis. Sehingga jika bisa dimaksimalkan bukan tidak mungkin produk kerajinan kayu (woodcraft) miliknya mampu bersaing di pasar nasional hingga internasional.

Tim liputan bisnisUKM