Lada (Piper nigrum L.) disebut sebagai raja dalam kelompok rempah (“King of Spices”) karena merupakan komoditas yang paling banyak diperdagangkan. Lada Merupakan komoditas potensial Indonesia yang sudah diekspor ke Eropa sejak abad ke 12.

Video Praktisi

Strategi Promosi Ubiyabi Melalui Media Sosial

Salah satu daerah penghasil lada terbesar di Indonesia adalah Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur. Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur merupakan daerah yang cukup besar andilnya sebagai penghasil lada terbesar setelah Lampung, dan Bangka Belitung.

Sampai sejauh ini, perkebunan lada di Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur masih berpeluang untuk dikembangkan. Hal ini disebabkan karena lahan di dua daerah tersebut masih cukup luas untuk ditanami. 

Selain itu tersedianya teknologi budi daya lada yang efisien, biaya produksi yang lebih rendah serta adanya peluang melakukan diversifikasi produk apabila harga lada jatuh, merupakan keunggulan yang membuat perkebunan lada selalu dapat dikembangkan.

Sumber Devisa

Lada memiliki peran penting dalam perekonomian di Kalimantan Timur dan Kalimantan Barat. Selain sebagai penyedia lapangan kerja, bahan baku industri, dan konsumsi langsung, lada juga berperan sebagai penggerak perekonomian di sentra-sentra produksi.

Dalam perekonomian nasional, lada merupakan sumber devisa negara. Devisa dari lada menempati urutan keempat setelah minyak sawit, karet, dan kopi. Di pasar internasional, lada Indonesia mempunyai kekuatan dan daya jual tersendiri karena cita rasanya yang khas.

Lada Indonesia dikenal dengan nama Muntok white pepper untuk lada putih dan Lampong black pepper untuk lada hitam. Lada merupakan bahan baku industri makanan siap saji, obat-obatan, kosmetik, dan lainnya.

Di beberapa negara industri parfum yang sudah maju seperti Perancis, ketergantungan pada lada sangat besar. Lada digunakan pada berbagai makanan tradisional maupun masakan Eropa sebagai penyedap.

Pangsa Pasar

Konsumen lada terdiri dari rumah tangga, unit usaha dan industri. Konsumen rumah tangga yaitu penggunaan lada dalam makanan sehari -hari. Konsumen unit usaha meliputi hotel, restoran, dan outlet makanan lainnya, sedang konsumen lainnya adalah sektor industri makanan ( food industry manufacturing).

Pola konsumsi lada antar negara sangat bervariasi. Semakin berkembangnya industri makanan pada suatu negara, maka semakin tinggi kebutuhan aroma dan perasa (flavour) per kapita.

Di negara maju yang industri makanannya yang sudah berkembang seperti Amerika, Jerman, Prancis, dan Jepang. Konsumsi lada perkapitanya menunjukkan jumlah yang lebih besar dibandingkan negara yang sedang berkembang.

Oleh karena itu, peningkatan pendapatan per kapita akan mempercepat pertumbuhan industri di suatu negara, termasuk industri makanan. Pertumbuhan inilah yang diharapkan sebagai salah satu variabel yang akan mendorong laju permintaan terhadap lada, sebagai salah satu komponen penting dalam industri makanan.

Permasalahan

Sebagian besar (99%) pertanaman lada di Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur diusahakan dalam bentuk perkebunan rakyat dengan pengelolaan yang tradisional. Pengelolaan tersebut diantaranya adalah penggunaan pupuk dan obat-obatan terbatas atau tidak sesuai anjuran, penggunaan bibit asalan, dan pengelolaan hasil tidak higienis.  Hal ini berdampak pada produktivitas yang dicapai rendah. Biji yang dihasilkan juga tidak bernas dan berukuran kecil.

Pada setiap subsistem agribisnis juga terdapat berbagai permasalahan. Pengadaan sarana produksi belum efisien, bibit unggul dan pupuk sulit diperoleh dan keberadaannya tidak tepat waktu, teknologi budi daya masih konvensional, teknologi pengolahan kurang higienis, serta peran kelembagaan tani dan pemasaran kurang mendukung membuat usahatani lada seperti berjalan ditempat.

Persaingan perdagangan lada di pasar dunia semakin kompetitif karena persyaratan yang diminta negara -negara konsumen semakin ketat terutama dalam jaminan mutu, aspek kebersihan dan kesehatan. Hanya negara yang mampu memproduksi lada dengan mutu sesuai keinginan konsumen dan harga yang kompetitif akan berpeluang meraih pasar.

Melihat permasalah tersebut diatas, dapat disimpulkan bahwa permasalahan utama agribisnis lada di Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur adalah sebagai berikut :

  1. tingkat produktivitas tanaman dan mutu yang rendah
  2. tingginya kehilangan hasil akibat serangan hama dan penyakit
  3. usahatani yang belum efisien
  4. masih rendahnya usaha peningkatan mutu dan diversifikasi produk
  5. serta lambatnya proses alih teknologi ke tingkat petani

Dengan demikian, perlu dilakukan revitalisasi pengembangan lada, yaitu perbaikan budidaya yang mempunyai keunggulan komparatif dengan komoditas lain serta kemampuan bersaing secara kompetitif dalam proses produksi dengan negara penghasil lada lainnya.

(nip/bisnisukm.com)