tepung-ikan-tegal

Video Praktisi

Menanggapi Adanya Pasar Jenuh

Kota Tegal dengan 4 kecamatan dan 27 kelurahan, memiliki jumlah penduduk 236.268 jiwa dengan mata pencaharian terbesar sebagai pedagang, yaitu 18.267 jiwa atau 14,40%. Selebihnya adalah buruh, petani, nelayan, PNS dan TNI. Tegal termasuk kota berpenduduk padat yaitu 6.136 jiwa/km2 dengan karakteristik pekerja ulet, inovatif dan sifat terbuka.

Dalam memanfaatkan sumber daya alam sektor perikanan di kota Tegal terdapat 3 tempat pelelangan ikan yang didukung dengan peralatan tangkap berupa kapal perikanan sebanyak 1.026 unit, terdiri dari kapal motor 610 unit, motor tempel 413 unit dan perahu tanpa motor 3 unit. Sedangkan alat tangkapnya sebanyak 1.032 unit terdiri dari : purse seine 177 unit, trammel net 36 unit, jaring arat 337 unit, cantrang 342 unit, pancing 5 unit, gillnet PMT 32 unit, jala tebar 32 unit.

Tenaga kerja yang terserap didalamnya mencapai 12.940 orang, terdiri dari pemilik sebanyak 827 orang dan buruh sebanyak 12.15 orang. Industri makanan olahan berbahan baku ikan yang ditawarkan dengan bahan dasar fillet ikan adalah produksi bakso ikan, nugget ikan, maupun jenis makanan olahan lain.

Melimpahnya hasil tangkapan ikan nelayan di kota Tegal merupakan faktor pendukung keberhasilan usaha ini. Produksi ikan tangkapan yang ada di kota Tegal menunjukkan peningkatan dari tahun ke tahun. Tahun 2003 produksi sebanyak 3.197 ton dan pada tahun 2005 meningkat menjadi 3.580 ton dan terakhir pada tahun 2008 produksi menjadi 5.458 ton.

Dengan demikian masih cukup tersedia peluang untuk mengembangkan produksi penangkapan. Melihat kapasitas produksi lestari dan kapasitas produksi hasil penangkapan, Tegal memiliki cukup bahan baku ikan yang dapat memenuhi industri tepung ikan.

Potensi Pengembangan Tepung Ikan

Melihat masih kecilnya pemanfaatan ikan sebagai bahan baku tepung ikan, maka industri tepung ikan memiliki peluang untuk dikembangkan oleh investor di Tegal. Lebih dari itu, komoditas tepung ikan memiliki peluang pemasaran yang prospektif baik untuk pasaran dalam maupun luar negeri. Hingga saat ini, Indonesia merupakan negara pengimpor tepung ikan.

Tepung ikan (marine fish meal) adalah salah satu produk pengawetan ikan dalam bentuk kering, kemudian digiling menjadi tepung. Bahan baku tepung ikan umumnya adalah ikan-ikan yang kurang ekonomis, hasil sampingan penangkapan dari penangkapan selektif, glut ikan (ikan yang melimpah) pada musim penangkapan dan sisa-sisa pabrik pengolahan ikan seperti pabrik pengalengan dan pembekuan ikan dan minyak ikan.

Feasibility study industri tepung ikan dapat dilaksanakan jika secara ekonomi menguntungkan. Oleh karena itu perlu dilakukan suatu kajian baik mengenai pasar, proses produksi termasuk ketersediaan bahan bakunya, serta analisis keuangan dan ekonomi serta analisis dampak lingkungan.

Parameter teknis yang digunakan dalam menentukan produksi sesuai dengan rencana produksi adalah 6 hari kerja dalam satu minggu, sehingga hari kerja yang digunakan selama satu tahun adalah 312 hari atau 52 minggu dalam satu tahun. Jumlah produksi tepung ikan yang bisa direncakan adalah sebesar 950 ton tepung ikan dan 1.035 ton minyak ikan.

Tenaga kerja yang digunakan sebanyak 75 orang, terdiri dari 15 tenaga administrasi / staf dan managerial serta 60 orang adalah tenaga harian, sehingga dapat diperoleh gambaran biaya langsung operasional dan hasil produksi serta nilai jual yang diperoleh selama satu tahun

Dengan berkembangnya industri tambak udang dan usaha pakan ternak di Indonesia, permintaan terhadap tepung ikan akan terus meningkat. Oleh sebab itu, investasi bidang usaha industri tepung ikan sangat prospektif untuk dikembangkan oleh investor dalam dan luar negeri. Melalui investasi tersebut diharapkan dapat menghemat devisa negara serta akan mengurangi impor tepung ikan dan minyak ikan.

Sumber gambar : yogyakartaonline.com