Inilah Kiat Sukses Bisnis Keripik Gethuk Tetap Ramai di Masa Pandemi!

Keripik gethuk adalah inovasi dalam mengembangkan makanan tradisional jadi jajanan kekinian. Sejauh ini gethuk dikenal sebagai makanan tradisional sejenis kue basah. Gethuk itu jajanan khas dari wilayah Jawa Tengah, Yogyakarta, dan sekitarnya. Salah satunya adalah Magelang yang banyak punya produk olahan khas dari singkong. Mulai dari gethuk trio, gethuk lindri, sampai gethuk bolen.

Gethuk merupakan makanan ringan yang terbuat dari bahan utama ketela pohon atau singkong. Pembuatan gethuk dimulai dari pengupasan singkong dan kemudian direbus. Setelah matang kemudian ditumbuk atau dihaluskan dengan cara digiling lalu di beri pemanis gula dan pewarna makanan.

Sekarang muncul keripik gethuk, produk inovasi dari Geprania milik Anton Prasojo. Keberanian Anton untuk menginovasikan gethuk menjadi camilan keripik ini adalah karena komoditas singkong di daerah asalnya yaitu Magelang, Jawa Tengah sangat melimpah. Kebanyakan singkong hanya diolah menjadi jajanan gehtuk basah. Padahal menurut Anton, gethuk itu punya potensi untuk bisa dikembangkan menjadi olahan yang lebih kekinian.

Inovasi Makanan Tradisional Keripik Gethuk

Gethuk sebagai jajanan tradisional kini berevolusi menjadi olahan keripik. Kalau yang dulunya identik dengan rasa manis, sekarang berubah jadi jajanan keripik dengan citarasa gurih. Bahkan sekarang ini telah hadir keripik gethuk dengan beragam varian rasa. Geprania, Keripik Gethuk Tradisional Rasa Milenial sebagai brand yang mampu menginovasikan gethuk jadi camilan keripik kekinian.

Geprania adalah brand keripik gethuk yang hadir sejak tahun 2019 berlokasi Dusun Pojok Kiasan, Congdong Catur , Yogyakarta. Produk yang ditawarkan ada beragam varian rasa. Ada keripik gethuk rasa orisinal, jagung manis, barbeque, rumput laut, keju, sampai pedas langit. Segmen pasar dari produk keripik gethuk Geprania adalah semua kalangan. Mulai dari anak-anak, remaja, dewasa, sampai orang tua.

“Kami ini menyasar konsumen mulai dari anak-anak sampai orang tua. Kalau varian rasa rumput laut, barbeque, jaung manis, sama keju itu menyasar anak-anak. Banyak yang bilang, keripik gethuk ini mirip kentang. Seperti yang kita tahu keripik kentang kan memang camilan favorit banyak orang. Tapi konsumen pada bilang kalau keripik gethuk juga nggak kalah enak dari kentang,” jelas Anton.

Kalau untuk varian rasa pedas, segmen konsumennya adalah remaja dan dewasa. Banyak dari kelompok konsumen tersebut yang lebih menyukai citarasa pedas dan gurih seperti camilan kekinian yang sekarang jadi favorit anak muda. Sementara untuk varian rasa orisinal dikatakan oleh Anton sasarannya adalah orang tua. Misinya adalah untuk membangun kembali ingatan mereka pada makanan tradisional gehthuk. Jadi akan muncul kedekatan emosional dan kenangan akan masa kecil dulu.

“Kalau orang Jawa pasti dulu ya zaman kecil kenal banget sama gethuk. Jadi di sini pengennya ketika ada keripik gethuk orisinal, orang-orang itu jadi inget lagi dan nggak lupa sama makanan tradisional. Biar makanan tradisional itu bisa terus eksis. Ternyata gethuk itu bisa diolah jadi keripik, bisa menyesuaikan sama zaman lah,” terang Anton.

Pengembangan Produk Keripik Gethuk Geprania

Produk Geprania sejauh ini memang menyasar pasar premium. Hal ini dijelaskan oleh Anton selaku pemilik usaha kalau branding Geprania itu ingin menjadikan keripik gethuk naik kelas. Dibuktikan dengan pemgemasan produk yang juga disesuaikan. Ada dua jenis kemasan yang digunakan untuk branding produk Geprania. Pertama adalah kemasan keripik standing pouch yang dibandrol dengan harga Rp17.000 untuk berat bersih 100 gram. Kemudian yang kedua adalah kemasan toples yang dibandrol dengan harga Rp28.000 di pasaran.

“Sejak awal misi kami ini ingin menjadikan produk lokal, ya makanan tradisional naik kelas. Nggak kalah sama snack-snack dari luar negeri yang ada di mall. Sekarang kan makin banyak ya jajanan kekinian yang dari luar negeri itu jadi tren dan disukai banget sama anak-anak muda. Makanya Geprania ini memang dibranding jadi produk premium. Selain menyasar pasar secara umum kami menyasar wisatawan supaya bisa jadi oleh-oleh khas juga. Misinya adalah menjadikan keripik gethuk bisa bersaing dengan keripik kekinian lainnya,” ujar Anton.

Di tengah banyaknya makanan ataupun camilan dari luar negeri, seperti Jepang dan Korea di Indonesia, Anton sendiri makin khawatir bisa saja makanan tradisional akan terpinggirkan. Apalagi untuk kalangan anak-anak muda yang kebanyakan lebih memilih makanan kekinian dari luar negeri. Hal itulah yang menjadi semangat Anton untuk terus mengedukasi pasar supaya tidak lupa akan makanan tradisional yang sangat beragam.

“Bisa dibilang makanan tradisional itu ya mulai terpinggirkan. Sekarang kan banyak banget tuh makanan kekinian dari luar negeri. Jadi Geprania in hadir sebagai upaya untuk mengangkat makanan tradisional bisa eksis. Jadi, anak-anak muda bisa kenal, tahu, nggak lupa dan bangga sama makanan tradisional,” terang Anton.

Tantangan Bisnis

Dalam menjalankan bisnis apapun itu pasti ada tantangannya. Termasuk bagi Anton dalam mengembangkan brand Geprania, apalagi di masa pandemi ini. Sebagai produk yang juga menyasar para wisatawan, diakui oleh Anton sejak masa pandemi penjualannya turun. Maka dari itu Anton bersama tim melakukan inovasi supaya bisnisnya ini tidak berhenti di tengah jalan dan mampu bertahan serta berkembang meski di masa yang sulit.

“Kami rundingkan dulu sama tim, apa sih yang bisa kita lakukan biar nggak ganti usaha. Soalnya kan banyak yang banting stir punya usaha baru, produk rintisannya ditinggalin. Tapi bersyukur kami bisa berinovasi dengan menghadirkan produk Tela Milenia untuk menyasar pasar yang berbeda dengan produk yang sama,” tutur Anton.

Tela Milenia merupakan produk kembangan dari Geprania dalam bentuk kemasan kecil dan menyasar pasar secara umum, bukan pasar premium. Produk ini pada dasarnya merupakan produk yang sama dengan Geprania. Tapi keripik gethuk Tela Milenia ini dibandrol dengan harga Rp2.000 yang bisa ditemukan di warung dan angkringan.

“Biasanya kami cuma produksi untuk kemasan premium, dipasarkan ke luar negeri dan konsumen premium. Jadi supaya tetap ada perputaran produk, kami bikin versi kemasan kecil. Konsep bisnisnya itu kami titip jual ke minimarket , warmindo, angkringan, warung, toko kelontong. Jadi kami kasih keuntungan untuk mereka 500 rupiah,” terang Anton.

Sejauh ini total sudah ada 100 titik minimarket , warmindo, angkringan, warung, toko kelontong yang menjadi mitra dari Tela Milenia. Melalui inovasi ini Anton juga ingin mendukung para pelaku usaha lain supaya bisa mendapat keuntungan dari produknya melalui sistem konsinyasi yang dijalankan.

Tips Bertahan di Masa Pandemi

Menurut Anton, kalau ingin mengembangkan olahan makanan untuk bisnis, jangan pernah takut untuk mencoba konsep makanan tradisional. Sejauh pengalamannya, potensi makanan tradisional itu sangat besar. Tapi hal yang harus benar-benar direncanakan dengan matang adalah inovasi produk. Setelah itu barulah mengurus legalitas produk maupun usaha. Mulai dari IUMK, PIRT, sampai Label Halal.

“Inovasi itu sangat penting, tapi dibarengi juga sama legalitas usaha. Sudah pasti legalitas ini akan membangun kepercayaan masyarakat, produk sudah teruji, dan kesempatan untuk memperluas pasar lebih besar. Menurut saya bisnis itu ya dikerjakan saja dulu, totalitas. Nanti jalan itu ada sendiri, lama kelamaan juga akan berkembang. Asal kita tidak lengah, tidak mudah bosan, kita akan mendapatkan kesuksesan dari apa yang kita kerjakan,” tutup Anton.

Itulah kisah perjalanan bisnis Geprania @geprania.id dalam bertahan di masa pandemi yang semoga bisa menjadi inspirasi untuk kamu dalam menjalankan bisnis. Bagikan juga tulisan ini ke teman kamu yang lain supaya makin banyak orang yang terdorong untuk memulai bisnis.

Ikuti terus kisah menarik dari perjalanan para pelaku bisnis lainnya hanya di BisnisUKM.com

Apakah kamu tertarik untuk menjajal bisnis makanan tradisional?

Leave a Comment