Inovasi Kerupuk Berbahan Baku Salak

Selama ini kita mengenal salak sebagai produk pertanian yang bisa diolah menjadi beragam panganan lezat. Selain keripik yang sudah familiar di masyarakat, saat ini terdapat sebuah inovasi berbahan baku salak yang tidak kalah kriuknya, yakni kerupuk salak. Menyebut kerupuk sepertinya bukan sesuatu yang asing di telinga kita, karena kerupuk merupakan makanan pelengkap yang wajib ada di meja makan setiap kali santap pagi, siang, dan malam. Namun jangan salah, cita rasa kerupuk yang biasanya asin dipastikan tidak akan ditemui dalam kerupuk tersebut karena karakter rasa salak sendiri adalah manis dan sepet (bahasa Jawa).

Yoyok Prasetya

Mengolah Salak Menjadi Kerupuk

Belum lama ini tim liputan bisnisUKM berkesempatan berbincang dengan salah seorang produsen kerupuk salak yang berasal dari Banjarnegara Yoyok Prasetya. Meskipun tidak memiliki background pendidikan yang sejalan dengan olahan pangan, namun berkat ketekunan dan kerja keras yang dia lakukan, kerupuk salak (dari Banjarnegara) saat ini mulai dikenal luas di masyarakat. “Usaha ini berawal dari rasa keprihatinan dengan banyaknya salak di daerah saya yang banyak terbuang karena besarnya tidak sesuai alias kecil kecil (salak reject), sehingga saya berfikir harus ada solusi agar petani juga tidak merasa rugi,” jelasnya, Selasa (24/9).

“Saya kemudian membeli salak ke petani dengan harga Rp.1.000,00/ kg, mereka senang sekali karena biasanya salak kecil-kecil seperti itu hanya dibuang begitu saja, jadi berapapun saya minta pasti mereka kasih,” lanjut Yoyok. Trial error kemudian dilakukan pria yang pernah gagal dalam berbagai jenis bisnis tersebut untuk mencari komposisi yang pas. Berbekal referensi dari berbagai sumber, tidak butuh waktu lama bagi Yoyok untuk menemukan komposisi yang tepat penyusun kerupuk salak miliknya. Alhasil dengan payung CV General Industri miliknya, Yoyok memberanikan diri memproduksi dan memasarkan kerupuk salak di beberapa toko oleh-oleh.

Kerupuk SalakRespon positif yang ditunjukkan pasar memberikan kekuatan tersendiri bagi Yoyok ketika itu. Hasilnya, tidak tanggung-tanggung, toko oleh-oleh dari mulai Sokaraja, Magelang, Jogja, Klaten, hingga Solo disasarnya dengan kuantitas yang besar. “Hingga kini dalam sebulan kami rata-rata bisa memproduksi 800 pcs kerupuk salak, dan sebagian besar kami distribusikan ke toko oleh-oleh,” terang Yoyok. Diproduksi tanpa bahan pengawet, Yoyok berujar jika kerupuk salak kreasinya bisa bertahan hingga jangka waktu 6 bulan. Penasaran?

Tim liputan bisnisUKM

 

61 Komentar

  1. Assalamualaikum.
    Saya berminat untuk menjadi agen di daerah magelang. bagaimana cara nya tlng di info di email saya andreasty5@gmail.com
    Terimakasih

  2. Assalamualaikum.
    Saya berminat untuk menjadi agen di daerah magelang. bagaimana cara nya tlng di info di email saya andreasty5@gmail.com.
    Terimakasih

Comments are closed.