Inspirasi Bisnis, Video UKM

Memproduksi Aneka Jenis Produk Konveksi Berkualitas

 

PRODUKSI ANEKA JENIS PRODUK KONVEKSI BERKUALITAS

Keinginan yang kuat untuk mandiri membuat pasangan suami istri Hanung Alfianto (36) dan Diah Kartika Sari (32), memutuskan untuk merintis usaha sendiri pada tahun 2000. Belum adanya ide usaha maupun skill ketika itu tidak membuat keduanya patah arang. Dengan modal Rp200.00,00 yang mereka miliki, Kartika dan Hanung berinisiatif memasarkan produk mukena bordir yang diperoleh dari Pasar Beringharjo Yogyakarta. Mukena-mukena tersebut kemudian ditawarkan kepada kerabat dan teman dekat mereka. Respon positif dari pihak-pihak tersebut membuat keduanya mulai berfikir untuk mengembangkan produk konveksi yang lain seperti sprei, gorden, bed cover, bantal, guling, dakron, dll.

Franchise King Coklat Premium

Franchise King Coklat Premium

Harga Promo 3,8 Juta Saja Mendapatkan Booth, Blender, X-Banner, 100 Bahan Baku Gratis, dan semua perlengkapannya.

“Di sini (Purwodadi) ketika itu masih jarang produsen konveksi semacam sprei, bed cover, dan gorden, sehingga kami berupaya memanfaatkan peluang tersebut dengan mengembangkan sebuah usaha yang memproduksi aneka jenis produk konveksi semacam itu,” jelas Hanung kepada tim liputan bisnisUKM, Rabu (18/7). Dibutuhkan perjuangan ekstra dari Kartika dan Hanung untuk merealisasikan mimpinya tersebut. Sebelum benar-benar terjun dalam produksi aneka jenis konveksi, mereka terlebih dahulu mengikuti kursus ketrampilan produksi, terutama menjahit, dan desain gorden. Kesempatan tersebut dimanfaatkan betul oleh keduanya untuk mematangkan skill produksi yang mereka miliki.

Hanung AlfiantoSaat ini, di rumahnya Purwodadi Grobogan, Kartika dan Hanung telah dibantu oleh 10 orang tenaga produksi dalam mengerjakan beragam jenis produk kreasi konveksinya. Kesepuluh orang tersebut terbagi menjadi beberapa bagian produksi, diantaranya jahit, potong, ukur, dll. Mengusung ‘Kartika Collection’ sebagai nama usahanya, saat ini mereka bisa memproduksi 300 pcs sprei dan melayani pesanan gorden untuk 15 rumah setiap bulannya. “Rata-rata kapasitas produksinya demikian, namun pada momen-momen tertentu seperti sekarang menjelang lebaran, bisa dipastikan pesanan akan melonjak naik, bahkan kami kualahan melayaninya,” imbuh Hanung.

Pemasaran Produk Kartika Collection

Harga yang dipatok Kartika Collection untuk aneka jenis kreasi konveksinya cukup beragam, yaitu pada range Rp100.000,00 s.d. Rp1.000.000,00/ pcs. “Kalau untuk harga produk konveksi umumnya disesuaikan dengan bahan baku, ukuran, dan tingkat kerumitan pembuatan, oleh karena itu tidak ada patokan harga khusus sebelum produk tersebut benar-benar diproduksi,” terang Hanung yang diamini oleh Kartika. Dengan harga jual demikian, mereka mengaku bisa mengantongi omzet rata-rata 100-125 juta Rupiah/ bulannya.

produk konveksi kartika collectionKendati dewasa ini persaingan dalam usaha konveksi semakin ketat, namun Hanung tetap merasa yakin produk kreasinya bisa bersaing, baik dari segi kualitas maupun harga. “Kami selama ini menomor satukan kualitas dan timing produksi agar sesuai dengan permintaan konsumen,” tambahnya. Dengan mengutamakan kualitas, terbukti sampai dengan saat ini produk kreasi konveksinya masih diminati konsumen dari berbagai kalangan. Tidak jarang Hanung dan istrinya rela terjun langsung ke produksi dan konsumen, demi menjaga kualitas produknya.

Didukung sebuah workshop (toko) di pusat kota Purwodadi sebagai media pemasarannya, saat ini produk Kartika Collection telah tersebar ke beberapa wilayah di Seputaran Jawa Tengah, antara lain Pati, Semarang, Kudus, dll. “Dulu awalnya kami sempat menitipkan atau konsinyasi dengan beberapa pihak dalam memasarkan produk-produk kami, kemudian sales keliling juga pernah kami jalankan, pameran juga tidak ketinggalan, dari situlah kami mulai dikenal orang sampai dengan saat ini,” terang Hanung. Ke depannya dirinya ingin mencoba sistem pemasaran online yang selama ini belum pernah dimaksimalkan, agar jangkauan pasarnya lebih luas lagi.

gorden Kartika CollectionKetika ditanya mengenai kendala yang sering dihadapai dalam menjalankan usaha ini, Hanung mengungkapkan bahwa faktor produksilah yang terkadang mereka hadapi. “Faktor produksi terutama terkait deadline waktu pengerjaan, dimana tenaga produksi kami masih terbatas, sehingga terkadang sulit untuk mengaturnya, sementara kendala lain yang sering kami hadapi juga adalah pengaturan cashflow, sistem pembayaran yang harusnya cash, namun karena sudah langganan, mereka (konsumen) biasa meminta pengunduran pembayaran,” jelas Hanung.

Di akhir wawancaranya, Hanung berharap usahanya ke depan semakin berkembang, dengan jangkauan pasar yang semakin luas. Disamping itu, dirinya juga ingin mengembangkan usaha lain juga yang tidak jauh dari dunia konveksi, yaitu kaos distro.

Tim liputan bisnisUKM