Inspirasi Bisnis, Video UKM

Mengajak Anak Beribadah dengan Sajadah Lucu

Sajadah LucuMengajarkan anak-anak untuk rajin menjalankan ibadah (terutama shalat), kadang menjadi kesulitan tersendiri bagi kebanyakan orang tua. Banyak anak-anak yang justru merasa tertekan ketika orang tua memerintahkan mereka untuk mengerjakan ibadah dengan teguran, ajakan, dll. Salah satu solusi yang bisa orang tua terapkan untuk mengajarkan buah hatinya rajin beribadah adalah dengan menyediakan peranti beribadah yang membuat anak-anak merasa senang dan nyaman. Peranti yang berupa sajadah, mukena, dan sarung bisa dikreasi menjadi bentuk yang unik dan lucu dengan memberikan sentuhan hiasan dan gambar yang disukai anak-anak.

Hal itulah yang selama ini dijalankan oleh Ibu Trieke Dessayana (36) dalam memberikan pendidikan agama kepada putra-putrinya. “Awalnya memang susah mengajak dan mengajarkan anak-anak untuk sholat, kemudian timbul ide untuk membuatkan perlengkapan ibadah lucu yang akhirnya merangsang mereka (anak-anak) menjadi rajin beribadah,” ujar Ibu Trieke kepada tim liputan bisnisUKM Selasa (16/8) di rumahnya Perum SBI Sidorejo Kasihan Bantul. Kendati pada awalnya hanya untuk keperluan putra-putri mereka sendiri, namun lambat laun banyak tetangga dan rekan Ibu Trieke yang tertarik dengan produk tersebut. Alhasil, dengan dibantu adik iparnya Nanik Susilowati (35), beliau memutuskan untuk meneruskan peluang itu menjadi sebuah usaha yang diberi nama Sajadah Lucu.

Mengajak Anak Beribadah dengan Sajadah Lucu

Punya Gerai Nyoklat, Sudah Pasti Untung!

Punya Gerai Nyoklat, Sudah Pasti Untung!

Peluang usaha minuman dengan 100% keuntungan milik mitra, Dapatkan Promo Paket Nyoklat Super.

Perlengkapan ibadah khusus anak-anak yang diproduksi Sajadah Lucu selama ini berupa mukena, sajadah, dan sarung. Perlengkapan tersebut diberi hiasan berupa gambar tokoh-tokoh kartun, pemandangan alam, dan kendaraan. “Untuk motif tokoh kartun, kami mengikuti trend yang sedang disukai anak-anak, seperti Naruto, Ipin upin, Mickey mouse, dan Ben 10, sementara untuk pemandangan alam didominasi gambar bunga dan kupu-kupu, serta untuk kendaraan biasanya bergambar mobil, kereta api, kapal, dan sebagainya,” ujar Ibu Trieke.

Proses Produksi Sajadah Lucu

Menurut Ibu Trieke, proses produksi sajadah anak miliknya tidaklah rumit. “Tahapan produksinya sederhana, pertama menggambar motif, kemudian membuat polanya sesuai motif yang sudah digambar, setelah itu kain flannel dipotong sesuai dengan pola, kain flannel tersebut kemudian dirangkai dan ditempelkan dalam potongan kain yang menjadi dasaran, dan tahapan akhirnya tinggal merapikan” jelasnya. Selama ini, untuk proses produksi terutama pembuatan gambar motif, Ibu Trieke dibantu oleh adiknya yang pintar menggambar komik Jepang. Sehingga bisa dikatakan, bisnis yang beliau jalankan selama ini merupakan usaha keluarga.

Sajadah Lucu YogyakartaUntuk bahan baku produksi yang digunakan dalam membuat aneka perlengkapan tersebut antara lain kain asahe, kain flannel, bludru, dan busa. “Bahan baku tersebut sangat banyak ditemui di pasaran dan dijual dengan harga yang terjangkau,” kata Ibu Nanik sembari menjahit pesanan sajadah kartunnya. Untuk sajadah anak-anak yang berukuan 48 cm x 88 cm, mereka tawarkan dengan harga Rp.65.000,00/ pcs; untuk mukena lucu dihargai Rp.95.000,00/ pcs; dan sarung lucu harganya Rp.65.000,00/ pcs. Dalam sebulan, mereka mengaku mampu menjual antara 50-80 pcs beragam produk.

Produk Sajadah Lucu saat ini sudah dipasarkan hingga ke beberapa kota di tanah air, seperti Jakarta, Samarinda, Depok, Medan, Sulawesi, Pangkalpinang, dll. Luasnya area pemasaran produk tersebut tidak terlepas dari sistem pemasaran online yang selama ini meraka jalankan. “Untuk pemasaran, kami selama ini hanya menggunakan media online dan situs jejaring sosial, sementara untuk pemasaran offline kami justru belum menjalankannya secara aktif,” imbuh Ibu Trieke yang menghandle bagian pemasaran.

Permintaan produk Sajadah Lucu semakin tinggi ketika memasuki Bulan Ramadhan seperti saat ini. “Saat ini kami merasa kualahan memenuhi permintaan dari berbagai tempat, sehingga bagi yang order sekarang sebisa mungkin harus bersabar nunggu antrean produksi sampai sehabis Ramadhan,” tambah Ibu Nanik. Hal itu dikarenakan masih terbatasnya kapasitas produksi yang dihasilkan. Oleh karena itu, Ibu Trieke dan Ibu Nanik kompak berharap agar usahanya tersebut semakin meningkat kapasitas produksinya dan inovasinya juga semakin variatif.

Tim liputan bisnisUKM