Sulap Aneka Menu Nusantara Jadi Bisnis Makanan Beku!

Bisnis makanan beku peluangnya memang sangat menggiurkan unuk dicoba. Sekarang ini banyak para pelaku bisnis makanan beku rumahan yang sukses mengembangkan usahanya dimulai dari modal kecil. Dalam dunia bisnis kuliner, makanan beku ini trennya memang semakin menyebar luas ke pasaran. Jadi nggak heran kalau konsumennya terus bertambah dan inovasi yang bermunculan dari pelaku bisnis makanan beku juga makin beragam. Untuk produk-produk makanan beku atau frozen food, kebanyakan jenis makanan yang diolah adalah makanan berbahan dasar daging sapi, ayam, dan ikan, seperti bakso ataupun sosis.

Selain praktis, mudah, dan tidak membutuhkan waktu banyak dalam mengolahnya, makanan frozen food ini juga awet dan tahan lama. Jadi bisa disimpan dalam jangka waktu tertentu sebagai stok makanan. Pada dasarnya makanan beku sangat cocok untuk orang-orang yang aktivitasnya cukup padat. Tidak perlu repot dan memakan waktu yang banyak untuk mempersiapkan menu makanan. Tinggal thawing stok makanan beku di dalam lemari es, menu makanan favorit siap dinikmati.

Kalau ngomongin makanan beku, teknik thawing adalah hal yang sangat berkaitan erat. Teknik thawing adalah teknik pencairan bahan makanan beku sebelum dimasak. Caranya adalah dengan menaikkan suhu secara perlahan untuk menciptakan titik didihnya. Secara teknis, proses thawing bisa dilakukan dengan menggunakan microwave, air dingin, chiller, ataupun cuka. Sehingga bahan makanan bisa diolah lebih lanjut. Ketika teknik thawing yang dilakukan kurang tepat, bisa menghasilkan off-flavor pada makanan. Bahkan berdampak pada menurunnya kualitas makanan serta menjadikan bahan makanan ditumbuhi oleh berbagai jenis bakteri yang tidak baik untuk kesehatan.

Inovasi Bisnis Makanan Beku

Bisnis makanan beku ini tergolong bisnis yang mudah dijalankan. Bahkan bisa dilakukan dengan skala kecil rumahan dan modal yang diperlukan tidak terlalu besar. Hal terpenting dalam menjalankan bisnis makanan beku adalah konsistensi dalam merintis dan mengembangkan bisnis ke depannya. Sebenarnya dalam bisnis apapun itu, ketika sudah memutuskan untuk terjun dalam dunia bisnis maka harus dijalankan dengan konsisten. Apapun risikonya dihadapi dan terus berinovasi dalam mengembangkan bisnis. Tidak ada yang sukses dalam berbisnis tanpa melalui proses belajar. Begitu juga bagi Sjamsiar Agustin Titin yang saat ini fokus menjalankan bisnis makanan beku dengan inovasi dan kreasi yang unik.

Kalau secara umum bisnis makanan beku itu produknya adalah aneka olahan daging sepeti sosis, bakso, nugget dan aneka makanan simple lainnya, seorang Ibu dan womanpreneur yang kerap disapa Titin ini berinovasi dengan menghadirkan menu kuliner tradisional menjadi frozen food. Pada awal mula menjalankan bisnis catering yang diberi nama Ratengan Sajian Tradisi ini, Titin memang hanya fokus untuk menawarkan menu makanan dalam keadaan siap makan. Tapi semakin berjalannya waktu, bisnis kuliner yang berlokasi di Bantul Yogyakarta ini menghadirkan inovasi berbagai sajian kuliner nusantara dalam bentuk frozen food. Mulai dari gudeg, rawon, brongkos, samapai ayam ungkep.

“Di zaman sekarang ini jarak udah bukan lagi hambatan untuk bisa menikmati makanan khas suatu daerah. Contohnya ya di Jogja ini kan makanan khasnya gudeg, jadi orang bisa pesan dari jarak jauh. Apalagi di masa pandemi ini, banyak cara yang bisa dilakukan untuk bisa menyantap makanan khas daerah tanpa takut adanya penuruan kualitas rasa dan makanan itu sendiri. Salah satunya yang saya lakukan adalah dengan membuat aneka sajian khas daerah seperti gudeg dalam bentuk frozen food. Selain lebih praktis, dari segi citarasa akan tetap sama asalkan proses thawing dilakukan dengan tepat” ujar Titin.

Merintis Bisnis Makanan Beku

Dalam merintis bisnis makanan beku, diakui oleh Titin prosesnya bertahap. Pada mulanya, Ratengan Sajian Tradisi adalah bisnis catering pada umumnya yang  melayani pesanan makanan dari konsumen. Mulai dari konsumen skala individu, keluarga, sampai partai atau acara-acara besar. Menu khas yang ditawarkan ada beragam. Seperti rawon, ayam ungkep, brongkos, gudeg, gulai, rendang dan makanan khas nusantara lainnya. Tapi keuletan Titin dan kemauannya untuk terus berkembang pada akhirnya bisa menghasilkan kreasi dan inovasi baru untuk bisnis yang dijalankan. Titi berhasil menciptakan kreasi menu khas nusantara yang diolah menjadi makanan beku. Padahal kalau dipikir, makanan khas nusantara itu kaya akan bumbu dan rempah. Lalu bagaimana bisa menjadi makanan beku? Apakah citarasanya akan tetap sama? Keberadaan Ratengan Sajian Tradisi sampai di detik ini adalah jawabannya.

“Ada yang bilang kalau bisnis saya ini nggak fokus. Kalau bisnis kuliner itu setidaknya satu atau dua makanan yang ditawarkan. Tapi sejak awal saya rintis bisnis catering ini ya fokusnya ke pelayanan pelanggan. Jadi kalau pelanggan minta menu A ya saya bikinkan dengan kualitas rasa yang terbaik. Termasuk untuk bisnis frozen food ini, di mana fokusnya itu ingin memberikan solusi ke pelanggan supaya bisa menikmati berbagai makanan khas nusantara secara lebih simpel dan praktis,” tambah Titin.

Sebelum menghadirkan inovasi frozen food, Titin pernah merasakan bagaimana tantangan bisnis catering ketika ada pesanan dalam partai besar sementara tenaga kerja terbatas dan modal yang dimiliki tidak terlalu besar. Hal inilah yang menjadi titik awal bagaimana Titin bisa berkreasi dan berinovasi dalam menciptakan menu-menu nusantara dalam bentuk frozen food. Bahkan bisnis cateringnya ini makin dikenal dan bertambah banyak konsumennya sejak menawarkan berbagai menu frozen food.

Pelayanan Konsumen

Dari pengalaman Titin selama berkecimpung dalam dunia bisnis catering, melayani permintaan konsumen dengan sebaik mungkin adalah suatu keharusan. Meskipun terkadang banyak tantangan yang dihadapi. Tapi dari situlah akan belajar berbagai karakter konsumen untuk bisa memberikan pelayanan yang terbaik. Pernah suatu ketika Titin mendapatkan pesanan dadakan untuk menu brongkos oleh pelanggannya. Padahal untuk menu masakan brongkos itu perlu persiapan yang cukup rumit mulai dari bahan baku sampai bumbu dan rempahnya. Dari situlah Titin belajar untuk lebih mempersiapkan diri lagi ketika ada pesanan dadakan.

“Saya sering banget dapet pesenan dadakan dari pelanggan. Tapi prinsip saya itu memang mau maksimal di pelayanan. Jadi dari proses belajar ini bisa menghasilkan alur yang lebih terencana. Jadi selain bisa dikreasikan jadi makanan beku, saya juga sudah persiapkan untuk bumbunya. Bisa dibilang sambil menyicil supaya tidak terlalu makan banyak waktu saat proses masak.  Dengan tenaga kerja yang terbatas, modal yang tidak terlalu besar, asal bisa mengelola waktu dengan baik, pelayanan juga akan baik dan pelanggan bisa puas,” ucap Titin.

Konsumen dari Ratengan Sajian Tradisi juga bukan hanya dari wilayah Yogyakarta saja. Melainkan dari Jakarta dan luar wilayah Jogja lainnya. Mulai dari konsumen individu, keluarga, dan event-event tertentu. Modelnya ada yang berlangganan untuk menu mingguan, bulanan, dan per-kegiatan. Bahkan ada pelanggannya dari Jakarta yang membuat rencana menu sendiri sebagai stok untuk kemudian dibikinkan oleh Titin dalam bentuk makanan beku. Makanan beku pada dasarnya dari kualitas nutrisi jauh lebih baik dibandingkan dengan masakan yang dipanaskan berkali-kali. Asalkan proses pembekuan dan thawing-nya tepat. Semua makanan pada dasarnya bisa dibekukan tapi umurnya yang berbeda-beda. Apalagi untuk sayuran yang pada dasarnya kalau dibekukan umurnya lebih pendek. Maka dari itu Titin selalu memberikan konsumen cara thawing dan penyajian yang tepat sesuai menu masakan melalui Whastapp supaya lebih efektif.

Harapan Ke Depan

Bagi Titin, ketika produk bisnis makanan beku yang dijalankan ini laku artinya ada dua hal yang bisa digambarkan. Pertama adalah keberhasilannya dalam mengedukasi konsumen bahwa makanan beku atau frozen food itu tetap sehat, layak, dan nikmat ketika diproduksi dan disajikan dengan tepat. Sementara hal kedua adalah menu dan kreasi yang ditawarkan bisa diterima oleh pasar.

“Ketika produk lau itu berarti berhasil edukasi yang saya coba berikan berhasil dan bisa diterima oleh pasar. Karena persepsi konsumen kan beda-beda. Apalagi awalnya saya bikin makanan beku ini ya buat keluarga. Ternyata bisa dijadikan bisnis. Jalan rezeki itu menurut saya sudah disiapkan oleh Allah, tinggal kita mau pilih lewat jalan yang mana. Kuncinya adalah usaha dan ikhtiar, besar kecilnya bisnis itu bukan halangan untuk memulai dan berkembang,” tutup Titin.

Itulah kisah perjalanan bisnis Ratengan Sajian Tradisi @ratengan_ yang semoga bisa menjadi inspirasi untuk kamu dalam menjalankan bisnis. Bagikan juga tulisan ini ke teman kamu yang lain supaya makin banyak orang yang terdorong untuk memulai bisnis.

Ikuti terus kisah menarik dari perjalanan para pelaku bisnis lainnya hanya di BisnisUKM.com

Apakah kamu tertarik untuk mencoba bisnis makanan beku?

Leave a Comment