Sidoarjo merupakan kota industri yang tak pernah mati, yah itu mungkin ungkapan yang cocok untuk Sidoarjo dulu. Sekarang seakan-akan kehilangan ruhnya sebagai kota industri yang terlempar karena bencana lumpur Lapindo. Tapi tidak untuk saat ini, Sidoarjo sudah mulai menampakkan lagi kebangkitannya untuk menyelamatkan semua rakyatnya dari keterpurukan dampak lumpur lapindo. Seperti halnya Intako – Industri Tas dan Koper di Tanggulangin. Sebagian orang yang belum tahu di mana tepatnya lumpur lapindo terjadi, menganggap industri yang terletak di Tanggulangin ini sudah tenggelam. Padahal tidak demikian, industri ini masih ada dan tetap berusaha bangkit meraih kejayaannya seperti sebelum terjadi bencana lumpur.
Industri ini pada awalnya dimulai sejak 1939 ketika beberapa perajin memulai pembuatan barang-barang tas dan koper. Dan pada tahun 1976 didirikanlah Koperasi Industri Tas dan Koper (Intako), yang awalnya hanya beranggotakan 27 orang. Modal usaha diperoleh dari simpanan pokok anggota. Dalam perjalanannya, koperasi itu terus berkembang dan jumlah anggotanya sudah mencapai 354 perajin UKM dengan aset sekitar Rp 10 miliar. Tetapi setelah terjadi luapan lumpur lapindo hampir 70 persen perajin di Tanggulangin sudah gulung tikar. Beberapa di antara mereka yang masih bertahan hanya untuk menggarap pesanan.

Video Praktisi

Strategi Mengenalkan Produk Baru Brownies Telo

Sejak terjadi peristiwa semburan lumpur panas dari sumur eksplorasi PT Lapindo Brantas, pengunjung ke Tanggulangin turun drastis. Luapan lumpur telah menutup akses kendaraan dari arah Malang dan Probolinggo. Untuk menuju ke Tanggulangin kini tinggal satu akses, yakni dari Sidoarjo.

Luapan lumpur panas Lapindo memang berpengaruh langsung terhadap kelangsungan industri tas dan koper di Tanggulangin. Apalagi dalam setiap pemberitaan media massa, luapan lumpur sudah mencapai Perumahan Tanggulangin Anggun Sejahtera yang memunculkan persepsi perumahan tersebut berada satu kawasan dengan industri Tanggulangin. Padahal secara geografis, Tanggulangin masih 4 sampai 5 kilometer dari pusat semburan lumpur Lapindo. Sampai hari ini, sentra industri tas dan koper terbesar di Jawa Timur itu pun sama sekali belum tersentuh pekatnya lumpur.

Industri tas dan koper Tanggulangin Sidoarjo sesungguhnya merupakan salah satu ikon wisata Sidoarjo. Produk yang dihasilkan antara lain tas, koper, dompet, ikat pinggang dan sepatu. Produk ini telah memiliki brand dan mutu yang cukup bagus yang sudah diakui oleh konsumen. Tetapi setelah terpuruk karena hempasan badai krisis moneter, dilanjut dengan serbuan barang-barang produk Cina yang harganya sangat kompetitif, namun kualitasnya buruk. Belum sembuh, muncul bencana semburan Sidoarjo, yang juga ikut andil dalam keterpurukan tersebut. Praktis, hampir 2 tahun lamanya sentra industri tas dan koper Tanggulangin sepi pengujung, sebagian besar memang wisatawan dari luar daerah yang sedang transit.

Kini, para perajin mulai berusaha untuk membangun kembali mimpi mereka agar industri ini kembali hidup. Para pengrajin mulai menggelar Tanggulangin Fair pada tahun 2008, hal ini merupakan usaha yang dilakukan para pengrajin untuk menunjukkan kepada masyaraklat luas bahwa pengrajin industri tas dan kulit Tanggulangin masih eksist dan tetap berproduksi. Selain itu, sebelumnya para pengrajin juga lebih banyak melakukan jemput bola di berbagai kota di Indonesia, dengan melakukan road show untuk mengenalkan kerajinan Tanggulangin, sekaligus memberitahu bahwa kerajinan Tanggulangin tidak tenggelam oleh lumpur lapindo.

Road show yang sebagian dananya disumbang Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sidoarjo tersebut terbukti efektif membangkitkan Tanggulangin. Jika pada 2006, luapan lumpur melumpuhkan 80 persen sentra industri kebanggaan Sidoarjo itu, berkat ngamen, omzet dan penjualan mulai berangsur pulih. Setelah yakin industri yang berpusat di Desa Kedensari dan Desa Kludan itu mulai pulih, para perajin semakin percaya diri untuk mendatangkan pembeli ke tempat usahanya meskipun omset yang didapat belum kembali seperti sebelum adanya luapan lumpur lapindo.

sumber gambar: http://www.bi.go.id/sipuk/id/?id=4&no=51107&idrb=45301