Berbisnis Tusuk Sate Setelah Bosan Jadi Karyawan

Owner bisnis tusuk sateMemutuskan terjun di dunia usaha setelah bosan bekerja di Luar Jawa, Sunarko (49) yang awalnya harus terpisah jauh dari keluarga untuk mendapatkan penghasilan tetap setiap bulannya, kini berhasil menjadi seorang pengusaha sukses setelah menggeluti bisnis tusuk sate. Meski di awal merintis usaha banyak hinaan yang Ia terima dari lingkungan sekitar, namun Sunarko yang saat itu baru saja mengundurkan diri dari pekerjaannya di Kalimantan tetap maju dan semakin berani mengembangkan bisnis tusuk sate tersebut.

“Awal merintis bisnis tusuk sate banyak dicemooh teman bahkan dipandang remeh oleh lingkungan, mereka beranggapan apa yang bisa dihasilkan dari sekedar lidi tusuk sate. Namun saya terus maju dan semakin berani mengembangkan usaha ini, saya berpikir usaha ini orang pasti akan malu dan gengsi untuk menjalankannya. Disitu saya berpikir persaingan pasarnya pasti masih longgar,” ungkapnya.

Di awal merintis usaha, Sunarko masih mengerjakan proses produksi tusuk sate bambu ini dengan cara yang sederhana yaitu mengandalkan jemuran sinar matahari. “Ternyata sangat beresiko bila penjemuran dengan matahari dan warna natural bambu jadi rusak hitam. Pemasaran saat itu hanya wilayah lokal Malang. Seiring berjalannya waktu proses pengeringan saya gunakan sistem oven, karena hal terpenting dari produk tusuk sate adalah tingkat kekeringannya,” jelas Sunarko.

Setelah yakin produk tusuk sate  yang dihasilkannya tahan terhadap jamur, Sunarko mencoba untuk menawarkan produk tersebut ke toko-toko yang menjual keperluan alat makan, dan toko penjual plastik kemasan. “Si bos toko sangat antusias dan sanggup memasarkan produk tusuk sate yang saya beri merk BERLIAN. Melihat bisnis tusuk sate ini semakin ada titik terang, anak pertama saya yang saat itu masih menjadi karyawan sebuah bank  mengajukan pengunduran diri dan bertekad untuk mengembangkan bisnis tusuk sate BERLIAN bersama saya,” kata owner Mujur Makmur Bamboo Skewer tersebut.

Ketika ditanya dari mana Ia mendapatkan inspirasi bisnis tusuk sate ini, Sunarko bercerita bahwa selama bekerja di Kalimantan Ia sering melihat penjual sate masih menggunakan tusukan dari bahan lidi daun aren. Sunarko berpikir para penjual sate akan suka jika ada tusukan sate yang dijual di toko tanpa harus repot cari lidi daun aren ke hutan.

Bermodalkan uang Rp 5 juta Sunarko mencoba memproduksi tusuk sate secara manual di bawah bendera Mujur Makmur Bamboo Skewer. “Saya telah mengalami bagaimana sulitnya membuat tusuk sate yang bagus, tak terhitung berapa puluh kilogram tusuk sate saya buang percuma karena jamuran, gosong bahkan terbakar karena suhu oven terlalu panas. Belum lagi hasil peruncingan yang kurang lancip, lidi yang masih kotak (diameter lidi harus bulat sempurna), kurang putih, kurang halus, panjang lidi tidak sama, hampir-hampir saya putus asa karenanya. Maka tak heran kalau banyak pengusaha tusuk sate yang bangkrut, karena memang tidak mudah membuatnya,” tutur pengusaha sukses tersebut.

Dengan menggunakan bahan baku bambu petung yang sudah berumur diatas 2 tahun, saat ini Sunarko memperoleh bahan baku dengan cara sistem kemitraan dengan pengrajin lidi bambu setengah jadi yang ada di sekitar Kabupaten Malang.

“Mereka kebanyakan sudah menggunakan mesin skala rumah tangga 125 watt yang mampu menghasilkan bahan tusuk sate 50 kilogram per hari. Saat ini sedikitnya 30 orang pengrajin sudah bermitra dengan kami. Mereka setor ke pabrik kami  hargai Rp 5.000,00 – Rp 7.000,00 per kilogram, tergantung kualitas bambu dan kadar air. Kemudian kami proses hingga tusuk sate siap dikemas,” paparnya.

Dengan mengutamakan kualitas produk yang tajam, warna bersih, kering, halus, dan higienis, tusuk sate buatan Sunarko juga banyak digunakan untuk tusuk sosis, bakso, donat, kentang ulir, jagung bakar, dan lain sebagainya.

Peran aktif sang putra tercinta dalam memanfaatkan teknologi internet dalam pemasarannya, sekarang ini tusuk sate BERLIAN sudah beredar mulai dari Medan, Jambi, Palembang, Jakarta, Bogor, Cirebon, Jogja, Surabaya, Pontianak, Samarinda, Balikpapan, Banjarmasin, Makasar,  Manado, Papua.

“Harapan saya ke depan bisa memproduksi tusuk sate dengan kualitas yang lebih bagus dan kapasitas yang lebih besar hingga bisa memenuhi kebutuhan pasar di Indonesia maupun ekspor. Berharap pula dengan pemerintah maupun lembaga lain akan adanya perhatian maupun support untuk perkembangan usaha,” kata Sunarko kepada tim liputan bisnisUKM.com.

Bagi rekan-rekan yang ingin terjun di dunia usaha, Sunarko berpesan bahwasannya yang perlu diingat adalah jika Anda tidak bersedia bekerja keras, lembur, melupakan keuntungan pribadi dan kesehatan, maka wirausaha bukan untuk Anda. “Pada awalnya, Anda pasti tidak akan mampu membayar karyawan, sekalipun karyawan yang murah. Jadi, karyawan Anda, adalah Anda sendiri,” pungkasnya.

Tim Liputan BisnisUKM

33 Komentar

  1. yang komen minta ajarin sangat cerdas, lu kalo diajarin bakal jadi pesaing lah, usaha sendiri

  2. Bapk pengusaha tusuk sate, saya dari palembang sangat terinspirasi sekali dgn usaha bpk dan ingin memulai usaha ini tapi saya belum tau harus dari mana memulainya.mohon bimbinganya dr bpk trima kasih

  3. Di didaerah mana Pak, bisa pesan segala ukuran, bisa mintak nmr telpnya. Saya di jakarta

  4. saya pengen jadi mitra bapak ..saya sudaj pybya mesin tusuk sate tapi belun bisa memasarkan.

  5. saya d blitar pak mohon pencerahanya untuk harga mesin dan hasil produk tusuk sate untuk pemasaran

  6. Pak saya dari madura jg mulai belajar bisnis tusuk sate tp saya masih bingung cara pemasarannya gimana karena kayaknya disini harga tusuk sate sangat jeblok

  7. Salam sukses pak kami dr daerah madura banyak sekali bambu yg tak ter pake’karn ga’ga’ada pengrajin dr bambu mgkn bpk bs membantu kami untuk mengelola bambu tersebut sehigga pohn bambu bd ter pake’smua

  8. Pak saya ingin beli mesin tusuk yang di wilAyah semarang apa yogyakarta ada gx gAn

  9. Saya mau juga usaha tusuk sate tape saya belum tahu untuk penyalur pembeli atau pembeli untuk usaha tusuk sate

  10. Saya sangat ingin buka usaha tusuk sate,tp sy sama skli blum ada pengalaman di bidang tersebut. Bisa bantu pencerahan? Trims
    Lisysnatania@gmail.com

  11. pak saya ingin belajar mengenai usaha ini, bermitra dengan njenengan atau membuka peluang usaha d tempat saya (orangtua), orang tua asli dari desa ubalan kec ngajum arah gunung kawi, tpi sekarng tinggal di jln pisang candi barat, sekitaran Cyber mall kota malang..Ekaarengga@gmail.com

  12. Saya terinspirasi dan ingin menjadi mitra kerja bapak,mungkin saya bisa menyediakan bahan baku/produk setengah jadi ke bapak.saya tinggal di trenggalek.(danawahyu86@gmail.com)

  13. Pa sy tertarik jadi distibutor wilayah karawang jawa barat,sy punya data base agen klontong 620 agen klontong sy seorang sales yang baru resend dari pt sns(ditributor kacang garuda)

  14. Saya kagum dan terinspirasi. Sejak lama saya penasaran cara pembuatan tusuk sate. Apabila di ijinkan bolehkah saya menjadi mitra krja bapak dengan bekerja sama dengan bapak. Alamat saya di mojokerto. Kebetulan disini masih sedikit yg mampu produksi tusuk sate.
    Apabila bapak berkenan menjadikan saya menjadi mitra bekrrja bapak, mohon responnya di alamat email saya syafrinacahyani@yahoo.co.id

  15. pk saya ingin belajar dan ingin menjadi mitra bapak alamatnya dimana pak saya tingal di blitar saya tertari sekali dengan bisnis ini

  16. Terimakasih utk paparan bisnisnya. Sy pengin jadi agen untuk tusuk sate ini. Bisakah diberikan list harga agen ke email saya ? Berapa sewa truk dari malang ke jakarta ?

  17. Trimakasih sebelumya pak n salam sukses , kebetulan saya tingal di daerah terpencil ( wilayah solo ) angan2 saya pingin bikin tusuk sate , cuman permasalanya masih bingung dalam pemasaranya , pertayaanya ,, apakah bapak bisa menerima hasil dari prodak kami. Dan kriteria yag bagaimana supaya bisa masuk (pasar) trima kasih dan salam sukses ( mohon di balas liliyunarferiadi@gmail.com)

  18. Pak , mohon dapat dikirimkan list harga produk tusuk satenya via email (firman_231087@yahoo.co.id). saya berminat menjadi distributor. terima kasih.

Comments are closed.