Mencoba Bisnis Gula Semut Disela Kesibukannya Menjadi Jurnalis

Bisnis gula semutBerawal dari pekerjaan sang istri yang diharuskan tinggal di sebuah desa yang mayoritas masyarakatnya bekerja sebagai penderes (petani gula kelapa), hampir setiap hari Arbi Anugrah (33) menyaksikan aktivitas para penderes ketika harus naik pohon kelapa yang tingginya sekitar 20 meter untuk mengambil air nira. Rasa penasarannya pun berlanjut, dengan latar belakang profesinya yang bekerja sebagai seorang jurnalis media nasional, Ia terpancing untuk mengangkat aktivitas para petani gula di daerah tersebut.

“Bukan hanya satu dua pohon yang mereka panjat, tapi 40 pohon pada pagi hari dan 40 pohon pada sore hingga malam hari. Itu mereka lakukan setiap hari untuk membuat gula jawa cetak dengan bayaran yang pas pasan,” kata pengusaha sukses yang akrab dipanggil Arbi tersebut.

Baca Juga Artikel Ini :

Manisnya Gula Aren di Bulan Ramadhan

Potensi Pengembangan Tanaman Tebu Di Jawa Timur

Setelah mengamati aktivitas para petani gula, suatu hari Arbi mendapat informasi bahwa selain diolah menjadi gula cetak, ada pula gula semut yang dihasilkan dari air nira kelapa. Dari situ Ia mulai tertarik untuk meliput kegiatan bisnis gula semut. Berbeda dengan para petani gula cetak, para petani gula semut umumnya lebih sejahtera karena gula yang mereka hasilkan dibayar lumayan tinggi untuk di ekspor ke Eropa, Amerika, dan Jepang.

“Yang sangat mencengangkan yakni saat saya bertanya pada hampir semua orang yang saya temui, “apakah tahu apa itu gula semut?” rata-rata mereka tidak ada yang tahu apa itu gula semut. Berawal dari liputan itu dan melihat banyaknya orang yang tidak mengetahui apa itu gula semut serta manfaatnya, akhirnya saya berfikir untuk mengemas ulang dan memperkenalkan gula semut pada masyarakat Indonesia,” jelasnya.

Mengemas Ulang Gula Semut

Legine Gula SemutMengusung “Legine Gula Semut” sebagai brand produknya, Arbi mengaku awalnya ide ini hanya sekedar ide dan belum Ia jalankan. Kegalauannya sebagai warga negara Indonesia semakin terasa manakala banyak warga negara asing memanfaatkan gula semut untuk kebutuhan makanan rendah kalori untuk penderita diabetes, sementara di negara sendiri banyak masyarakat yang belum mengenal apa itu gula semut. Hingga akhirnya Ia bertemu dengan Wakil Kepala PPATK yaitu Agus Santoso dan menceritakan ide bisnis tersebut.

“Beliau kemudian memberikan motivasi untuk terus memperpertahankan ide saya dan melaksanakannya apapun hambatannya. Kami memang kenal dengan baik saat liputan, bahkan saat kemasan telah saya buat, beliau sempat membantu saya menawarkan produk gula semut yang saat itu belum ada isinya ke sebuah toko oleh-oleh. Dia tetap menyemangati saya untuk memulai bisnis sampingan ini,” terang Arbi.

Semangat untuk memperkenalkan gula semut ke masyarakat Indonesia juga Arbi ceritakan pada teman-temannya, hingga akhirnya dari seorang teman Ia mendapatkan uang pinjaman modal untuk memulai bisnis sampingan tersebut. Kebetulan juga saat itu koperasi tempat Ia liputan juga memproduksi gula semut aneka rasa, seperti misalnya gula semut rasa jahe, kunyit, temulawak, dan kayumanis. Melihat peluang tersebut, akhirnya Arbi mempunyai ide untuk memasarkan gula semut varian rasa dengan brand Legine Gula Semut.

“Alhamdulilah meskipun saat ini masih dalam tahap edukasi terhadap masyarakat Indonesia, tapi sudah semakin banyak masyarakat Indonesia yang mengkonsumsi gula alternatif pengganti gula tebu ini. Saat ini saya masih melakukan pengemasan sendiri, dibantu dengan istri. Untuk kapasitas produksi per bulan kami baru mampu membuat sekitar 300 – 400 pcs yang dipesan sesuai permintaan,” kata Arbi dengan penuh rasa syukur.

Ingin Meningkatkan Kesejahteraan Petani Gula Kelapa

Pengiriman produk gula semutBerbekal bahan baku yang Ia peroleh dari koperasi gula semut, saat ini Arbi mengemas Legine Gula Semut dengan packaging modern untuk memperkenalkan gula semut ke masyarakat Indonesia. Dengan bantuan media online dan jejaring social, jangkauan paling jauh pemasaran gula semut Legine sudah sampai Tanjung Pinang. Sedangkan untuk pemesanan sendiri rata-rata datang dari Surabaya, Jakarta, Medan, Bandung, Cirebon, Semarang. Terakhir, Arbi sempat ikut mewakili Indonesia dalam pameran OVOP di Thailand.

BINGUNG CARI IDE BISNIS ?
Dapatkan Ratusan Ide Bisnis Dilengkapi Dengan Analisa Usaha.
Klik Disini

Kendati sekarang ini Arbi bisa mengantongi omzet minimal Rp 5 juta dalam sebulan, namun pengusaha sukses ini masih sering menemui beberapa kendala dalam menjalankan bisnis sampingannya. “Tingginya permintaan gula semut yang sudah mulai berjalan tidak diimbangi dengan peralatan produksi yang memadai, sehingga banyak waktu yang terbuang sia-sia akibat lamanya proses pengemasan yang masih manual. Selain itu ada banyak perijinan yang harus ditempuh untuk melengkapi kemasan produk, sementara kami kesulitan dengan modal karena biaya perijinan tidak murah,” tuturnya.

Meski saat ini toko modern seperti Alfamart, dan Indomart belum bisa menerima kemasan produk yang kami miliki, namun kedepannya akan ada lebih banyak lagi reseller dan dropshipper yang ikut memasarkan produk gula semut Legine agar melalui dunia maya. “Semakin banyak masyarakat Indonesia yang sadar akan pentingnya mengkonsumsi gula semut rendah kalori, maka dengan begitu pendapatan petani gula semut juga akan ikut meningkat,” ucap Arbi ketika ditanya mengenai harapan ke depan.

Tim Liputan bisnisUKM

2 Komentar

  1. tertarik juga untuk memasarkan didaerah tebing tinggi sumut,mohon infonya untuk menjadi resellernya gan.tks

Comments are closed.