Nusa Tenggara Barat (NTB) merupakan daerah yang ditetapkan sebagai daerah rujukan pengembangan ternak nasional. Hal ini dikarenakan populasi ternak sapi di daerah ini cukup besar, yaitu mencapai 507.836 ekor tahun 2008. “Sementara pada tahun 2009 populasi ternak sapi ditargetkan mencapai 681.909 ekor,” kata Gubernur NTB, KH. M Zainul Majdi di Mataram.

Video Praktisi

Strategi Promosi Ubiyabi Melalui Media Sosial

Secara faktual NTB memiliki peluang pengembangan ternak ruminansia mencapai 2.016.311 ekor sapi dewasa di lokasi lahan untuk daya tampung seluas 1.928.300 hektare. Lahan pengembangan ternak tersebut sebagian besar terdapat di Pulau Sumbawa, karena luas Pulau Sumbawa adalah tiga kali dari luas Pulau Lombok, dan akan dijadikan pengembangan sapi Bali.

Dengan banyaknya populasi ternak di daerah ini, maka selain mengirim bibit ternak juga ternak potong dan setiap tahun NTB menyediakan sekitar 55.000 ekor ternak potong yang terdiri atas sapi dan kerbau dinya sebanyak 15.400 untuk kebutuhan lokal selebihnya dikirim ke berbagai daerah di Indonesia.

Berbagai upaya telah dilakukan pemerintah untuk meningkatkan populasi ternak sekaligus kesejahteraan peternak di daerah ini antara lain pemberian bantuan kepada kelompok peternak dari dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).

Tahun lalu diberikan bantuan sebesar Rp1 miliar untuk empat kelompok peternak di Lombok Tengah dan bantuan Rp140 juta untuk kelompok Andang Dise, Pujut. Selain itu, pihaknya mendapat bantuan berupa hibah dari Jepang sebesar Rp 30 miliar selama lima tahun untuk program pengembangan sapi potong dengan memanfaatkan sumber daya lokal di wilayah Indonesia Timur.

“Dengan adanya berbagai bantuan baik dalam maupun luar negeri tersebut populasi ternak khususnya sapi dan kerbau terus meningkat dan terakhir populasi sapi sebanyak mencapai 507.836 ekor dan kerbau 300.000 ekor,” katanya.

Data dari Dinas Peternakan NTB menyebutkan, berbagai Propinsi di Indonesia minta dikirimkan bibit ternak khususnya sapi dari NTB, untuk dikembangkan guna memenuhi kebutuhan daging di daerah tersebut. “Propinsi yang meminta bibit ternak dari NTB lain Papua, Kaltim, Kota Banjarmasin, NTT dan Sulawesi.

NTB tahun 2008 mentargetkan mengirim bibit ternak sebanyak 9.800 ekor terdiri atas sapi 7.800 ekor dan kerbau 2.000 ekor, realisasinya lebih dari 90 persen.

Selama ini pasar ekspor sapi Indonesia adalah untuk memenuhi permintaan ternak dari kawasan Timur Tengah. Untuk memenuhi kebutuhan daging dalam negerinya, negara-negara timur tengah lebih menyukai mengambil dari Indonesia karena telah diketahui kehalalannya.

Untuk mendukung program tersebut pemerintah akan menjalin kerjasama dengan pemerintah Australia. Dalam hal ini pemerintah Australia akan mengirim tenaga ahli untuk menyusun proposal berkaitan untuk mendorong percepatan investasi komoditas agribisnis tersebut.

Dalam pertemuan antara pihak pemerintah Australia dan menteri pertanian Anton Priyantono disebutkan bahwa australia meminta Indonesia membuka keran untuk impor jeroan dari negara tersebut. Menurut Mentan Indonesia tetap mengambil kebijakan untuk menutup impor jeroan, komoditas tersebut tidak layak di konsumsi manusia karena mengandung residu hormon dan obat-obatan antibiotik yang tinggi.

(sumber gambar : kambingonline.net)