martabak-bolu

Martabak Bolu jelas merupakan inovasi alias kreativitas kuliner dari PT Golden Bell. Dengan kakak beradik Nadia Damara Saputra (40) dan Surawiria Saputra (38) sebagai pelopor, sejak pertama fokus mereka sudah matang, yaitu menghadirkan sejenis martabak manis yang tidak sekadar enak, tapi juga “gak bikin susah”.

Martabak Bolu Golden Bell menembus berbagai kendala tadi. Berkat riset dan eksperimen sejak tahun 2004, martabak ini tidak hanya lezat tapi memiliki rasa yang stabil dalam berbagai kondisi. Dalam suhu ruangan atau baru dikeluarkan dari lemari es, enaknya Martabak Bolu tidak berkurang. Dengan kata lain, martabak ini dapat dinikmati kapan saja, tanpa dipanaskan terlebih dulu.

Yang tak kalah bikin susah adalah ketergantungan martabak manis biasa pada suhu. “Coba deh, rasa apa pun yang kita beli (keju, kacang, coklat hingga yang aneh-aneh seperti duren, kismis) hanya asik disantap dalam kondisi panas. Kalau ia berada dalam suhu ruangan, apalagi baru keluar dari lemari es…, jangan harap deh. Bener-bener hopeless ” Kata I Cie panggilan akrab Saputra.

Menciptakan Inovasi Produk Baru

Kebetulan I Cie tidak asing dengan komposisi bahan martabak karena sebelumnya pernah berjualan martabak ala Bandung. Namun karena usaha tersebut tidak berlanjut, peralatan pembuatan jajanan makanan oleh oleh bandung martabak teronggok begitu saja. Makanya, Nadia menyarankan untuk membuka kembali usaha martabak, tetapi dalam versi lain. Setelah coba sana coba sini, ketemu juga cara pembuatan jajanan makanan oleh oleh bandung martabak yang pas. Tetapi kakak beradik ini tak sudi muncul tanpa konsep yang jelas. Maka dipikirkanlah konsep yang pas.

“Saya melihat, Bandung banyak dikunjungi turis dari Jakarta dan kota lainnya. Maka saya terpikir untuk membuat jajanan makanan oleh oleh bandung martabak yang bisa dijadikan oleh-oleh,” kisah Nadia.

Nah, supaya pas dijadikan oleh-oleh, jajanan makanan oleh oleh bandung martabak tentu harus tahan lama. Maksudnya, tahan lama keempukannya, juga bertahan lama tanpa rusak. Nyatanya Martabak Bolu ini bisa bertahan 3 hari tanpa perubahan rasa dan 1 minggu di dalam lemari pendingin. Satu lagi syarat yang mereka pikirkan. “Sebaiknya, kan, tidak berminyak-minyak supaya terlihat menarik ketika diantarkan kepada orang lain,” kata I Cie.

Walaupun syarat kedua juga bisa dipenuh, toh, dua syarat itu belum membuat I Cie dan Nadia puas. Masih ada lagi yang dipikirkan. Namannya oleh-oleh, tentu tidak bisa disantap panas-panas. Sesampai di luar kota, pasti sudah dingin. Tampaknya syarat ini bisa dipenuhi juga oleh mereka. Meski sudah dingin, Martabak Bolu tetap sama lembut seperti waktu panas. Bahkan I Cie menjanjikan, jajanan makanan oleh oleh bandung martabak garapannya tetap lezat meski disimpan di lemari pendingin. “Kalau sudah dikeluarkan dari lemari pendingin, biarkan saja sebentar dalam suhu ruang, tak perlu dipanaskan. Rasanya tetap enak, kok.”

Beres soal kendala di martabak, masih ada hal lain yang mereka pikirkan yakni kemasan. Sebagai oleh-oleh Bandung, kemasan bukan hanya harus indah dipandang mata, tetapi juga enak ditenteng. Maka terciptalah kemasan persegi panjang yang berbentuk laci. Untuk merek, mereka sepakat diberi nama Golden Bell, untuk mengabadikan nama yang pernah menjadi kebanggaan orang tua mereka.

Strategi Promosi

Untuk mempromosikan Martabak Bolu yang unik ini, Nadia yang memegang urusan marketing, tidak pasang strategi macam-macam. Bahkan juga tanpa gerobak berhias meriah atau spanduk besar. Nadia hanya aktif menawari segenap kerabat dan keluarga, martabak garapan mereka. Bahkan ia tak ragu membagikan Martabak Bolu ini pada hari ulang tahun salah satu anaknya di sekolah. “Pokoknya siapa saja saya kasih icip-icip,” tuturnya bersemangat.

Tak sampai di situ, Nadia juga rajin mengirimi hotel-hotel di Bandung saat akhir pekan. Kalau perlu, setiap penghuni kamar di hotel tersebut dapat seloyang martabak. “Pokoknya saya tak berhitung soal untung-rugi. Yang penting orang coba dulu jajanan makanan oleh oleh bandung martabaksaya,” terang Nadia

Dari tak punya komputer, ia pun tak ragu membeli dan mempelajarinya, termasuk membuat website. “Pokoknya nekat saja, but Work Smart ~ konsultasi dengan ahlinya” tuturnya.Usaha Nadia tak sia-sia. Martabak Bolu yang dirintis 2 tahun lalu ini, mulai melejit sekitar 4 bulan lalu. Pasalnya, di internet ( dengan Web Ber SEO dari http://dokterPIM.com ) Nadia mulai memberanikan diri membuat website khusus (saat mengetikkan oleh oleh bandung / makanan bandung nama web martabakbolu.com keluar) jajanan makanan oleh oleh bandung martabak ini.

Di internet pula Nadia yang kreatif ini terinspirasi untuk bergabung di beberapa milis. Di milis ini pun Nadia membuat ide kreatif, dengan menyelenggarakan kuis seputar Martabak Bolu. Misalnya, pertanyaan, apa beda Martabak Bolu dengan martabak biasa. Sontak saja ratusan email merespon kuis yang dibuatnya. “Tujuan saya meningkatkan hits pengunjung yang membuka website saya adalah pertama dengan SEO kemudian hadiah” terang Nadia yang kemudian mengirimi hadiah Martabak Bolu kepada peserta yang memberi jawaban dengan benar. Kreativitas Nadia dalam berpromosi akhirnya mempopulerkan nama Martabak Bolu Golden Bell meski hanya dijual di garasi rumahnya di kawasan Pasteur, Bandung.

Keunggulan Produk ” Martabak Bolu Golden Bell “

  1. Martabak bolu rasanya seperti martabak, cuma teksturnya lembut.
  2. Tak berminyak seperti martabak umumnya.
  3. Tanpa bahan pengawet sedikitpun.
  4. Tidak harus disajikan dalam keadaan panas
  5. Kulit Martabak Bolu lebih tipis dibanding dengan martabak biasa.
  6. Di dalam lemari es pun tetap empuk (tidak keras seperti martabak pada umumnya hanya tahan 1 hari)

Rupanya, selama ini mereka menyimak, martabak terang bulan yang ada memiliki sejumlah kelemahan. Sekujur tubuhnya terlalu penuh minyak (dari mentega dan rombotter). Jadi, untuk digenggam pun bakal bikin repot; apalagi kalau sambil nyupir.