Sekitar tujuh tahun terakhir, kerajinan bunga kering menjadi salah satu daya tarik di Jalan Malioboro, Yogyakarta, selain batik dan pernak-pernik. Disinilah berbagai produk kerajinan hiasan interior ruangan dan taman dibuat. Hiasan bunga kering dibuat dari berbagai bahan alami. Seperti kulit jagung dan mangga laut. Bahan utamanya bunga-bungaan.

Video Praktisi

Strategi Mengenalkan Produk Baru Brownies Telo

Sebenarnya tidak hanya bunganya yang bisa dipakai sebagai bahan baku pembuatan bunga kering, batang pohon, rantingnya, dan aksesoris pendukungnya.

Sedangkan rantingnya dibuat dari pohon mahoni dan pohon pinus. Dengan diberi sentuhan seni, melalui proses pengeringan dan pengeleman, berbagai bahan alami diolah menjadi booklet bunga yang indah. Selain itu juga terdapat berbagai aksesoris pendukung dokarasi ruangan dan hiasan taman, seperti bingkai pelepah pisang dan lampion.

Tim kami berhasil menemui salah satu pengrajin yang telah mampu melakukan ekspor bunga kering. Adalah mbak Asih, satu dari sekian pengrajin yang masih bertahan. Berawal dari sang kakak yang membeli kerajinan bunga kering dalam jumlah banyak untuk dijual di kota lain namun dititipkan dirumahnya, banyak orang datang dan pesan kerajinan tersebut kepada ibu tiga anak ini. Kerajinan ini pun menjadi salah satu pembangkit perekonomian pasca gempa di sejumlah desa di pinggiran Bantul.

Hanya Punya Modal Awal Rp. 200.000,00
Mbak Asih memang baru memulai usahanya awal tahun 1999. Namun jika anda menanyakan ke pedagang kerajinan bunga kering di sepanjang jalan dekat keraton Ngayogjokarto dari mana asal bunga kering ini, pastilah mereka mengatakan “cari aja rumah mbak Asih di Dukuh dijalan bantul”.

Pada awalnya mbak Asih termasuk orang yang cukup berani. Hanya dengan modal sebesar dua ratus ribu (pada tahun itu), mbak Asih mengawali usaha ini. Diakuinya memang sulit untuk membuat kerajinan bunga kering ini, karena butuh ketekunan dan ketelitian. Lebih repot lagi jikalau musim hujan. “Wah, susah kering (bahan bakunya) tuh. Juga repot sama jamur yang tumbuh di bunga keringnya lho mbak”, ujarnya dengan logat Jogja yang kental.

Pesanan Hingga 20.000 Tangkai
Hanya dengan harga Rp. 1000,00 sampai Rp. 2000,00 saja, anda bisa membeli 1 tangkai untuk setiap jenis lontar atau klobot. Memang harga dari produk yang dihasilkan ini sangatlah terjangkau, namun dalam satu bulan mbak Asih mampu membuat 5000 jenis lontar maupun klobot hingga 20.000 jenis jika kebanjiran order. Dalam pembuatan tersebut, mbak Asih dibantu kurang lebih sekitar 10 orang perajin yang sebagian besar wanita.

Bahan baku dia beli dari beberapa toko langganan disekitarnya, namun khusus lontar dia datangkan dari Tuban. Walaupun sudah ada beberapa kompetitor, namun pelanggan setianya tetap memilih dia jika membutuhkan kerajinan bunga kering ini. Resepnya adalah selain kualitas mutu dari bunga kering yang dihasilkan, dia sangat mengutamakan pelayanan yang tepat waktu. “Jika Anda berminat bisa pesan dan langsung menemui mbak Asih di Dukuh MJ I 1452A RW16 RT75 Jln. Bantul”, ujarnya setengah berpromosi.
Bahkan beberapa pekan ini dia baru saja mengirim kerajinan bunga kering ini ke negara Irak.

Proses Pembuatan Bunga Kering
Proses pembuatan kerajinan bunga kering sebenarnya cukup sederhana. Semuanya dikerjakan tangan – tangan terampil ibu rumah tangga. Mereka bekerja disini mengisi waktu luang, setelah pekerjaan di rumah selesai. Hasil kerajinan yang telah jadi diletakkan di ruangan pamer. Disini dapat dilihat berbagai jenis bunga kering, yang telah dirangkai menjadi hiasan bunga.

Bahan yang dibutuhkan diantaranya bunga, kertas koran, tali pengikat, gunting, pasir putih/kassa, hairspray, dos untuk storage. Bunga yang bisa dikeringkan banyak sekali macamnya , yang biasa atau mudah kita temui misalnya : dahlia, roos, zinnia ( bunga kertas), lavender, helipterum, rumput-rumput , bunga -bunga liar (achillea, aconitum, allium dll) krissan, artemisia dan masih banyak lagi.

Bunga sebaiknya dipetik pada pagi hari dan setelah dipetik secepat mungkin dihindarkan dari sinar matahari. Kemudian ikat bunga dan digantung dengan posisi terbalik ( Upside down), jika menginginkan hanya kepala bunga saja (tanpa tangkainya) maka bunga bisa dikeringkan dalam sebuah wadah plastik berisi pasir putih atau kassa atau diletakkan diatas koran.

Bunga diletakkan terbalik fungsinya untuk membuat tangkai tetap lurus. Kemudian gantung dan keringkan bunga dengan kondisi :
1. Tempat harus gelap.
Tempat yang gelap berfungsi untuk mempertahankan warna bunga yang kita keringkan, hal ini karena proses hilangnya pigmen warna dari bunga adalah reaksi oksidasi dimana reaksi ini membutuhkan sinar dan air maka jika kita menghilangkan kandungan air didalam bunga dan menjauhkannya dari sinar maka warna bunga akan dapat dipertahankan.
2. Memiliki sirkulasi udara yang baik.
3. Tidak lembab.
Tempat yang memungkinkan misalnya : closet, garasi atau di dekat area ventilasi.

Setelah bunga menjadi kering , spray dengan hairspray untuk ekstra protection, lalu bunga kering dapat disimpan dengan menggunakan kertas koran atau didalam dos yang telah kita beri silica gel.
Duration of drying time ( lama pengeringan) tergantung pada :
1. Humidity ruangan.
2. Temperatur.
3. Airflow ( sirkulasi udara).
4. Type of flower ( jenis bunga).

Untuk beberapa jenis bunga ada yang mampu kering dalam waktu 24 jam. Setelah jadi, bunga kering tersebut bisa dirangkai dalam vas, buket atau untuk potpouri dll.

Simulasi

Bahan baku :                         Rp.2.000.000,00
Penjualan 5000 bunga X Rp.1500,- :   Rp.7.500.000,00
Tenaga 10 orang :                    Rp.4.000.000,00
Keuntungan :
Rp.7.500.000 – (2.000.000 + 4.000.000) Rp.1.500.000,00

sumber gambar : Tim bisnisUKM