Tanaman jambu mete merupakan tanaman perkebunan yang cukup berpotensi untuk di kembangkan di Indonesia.

Video Praktisi

Kunci Pemasaran Bisnis Kuliner Roti van Java

Hal ini karena pertama, tanaman jambu mete dapat ditanam di lahan kritis sehingga persaingan lahan dengan komoditas lain menjadi kecil, selain itu tanaman mete juga dapat berfungsi sebagai tanaman konservasi.

Kedua, tanaman jambu mete merupakan komoditas ekspor, sehingga potensi pasar cukup luas dan tidak terbatas pada pasar domestik. Ketiga, usaha tani, perdagangan dan agroindustri mete akan melibatkan banyak tenaga kerja.

Tanaman mete atau Anacardium occidentale. L sangat cocok untuk dikembangkan di daerah Nusa Tenggara. Dari NTB saja bisa menghasilkan 4.000 ton per tahunnya. populasinya menyebar di lombok barat, Dompu, Bima dan Sumbawa. Potensi areal perkebunan untuk NTB adalah 665.113 hektar dari jumlah tersebut yang dimanfaatkan baru 175.863 hektar atau sebesar 26,4%.

Dengan terbukanya peluang untuk sektor perkebunan yang luas ini seharusnya bisa dimanfaatkan investor untuk berinvestasi. Keuntungan akan dicapai dalam waktu yang tidak terlalu lama karena didukung oleh faktor geografis yakni tingkat kesuburan yang tinggi.

Sebagai hasil utama tanaman mete adalah gelondong mente, hasil samping buah semu mente yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku industri rumah tangga yang sampai saat ini belum banyak dimanfaatkan secara optimal.

Di Indonesia pemanfaatan buah semu jambu mete masih sangat terbatas baik dalam jumlah maupun bentuk produksinya. Pada beberapa daerah tertentu umumnya dikonsumsi dalam bentuk buah segar dan produk olahan tradisional. Diperkirakan, dari produksi buah jambu mete hanya sekitar 20 % yang sudah dimanfaatkan secara tradisional , misal dibuat rujak, dibuat abon dan sebagainya sedangkan sisanya 80 % masih terbuang sebagai limbah.

Ditinjau dari segi nilai gizi dan komposisi kimianya, buah semu jambu mete merupakan salah satu sumber vitamin dan mineral. Kadar vitamin C nya cukup tinggi, yaitu ( 147 – 372 mgr/ 100 gr ) kira –kira 5 kali vitamin C buah jeruk. Selain itu juga mengandung cukup vitamin B1, B2 dan niasin.

Kandungan mineralnya terutama unsur P terdapat dalam jumlah yang cukup, juga buahnya mengadung karbohidrat yang sebagian besar terdiri dari gula reduksi ( 6,7 – 10,6 % ) dan pektin serta bersifat Juicy karena banyak mengandung air.

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa buah semu jambu mete mempunyai potensi ekonomi yang cukup tinggi, sehingga dapat diolah menjadi berbagai produk makanan dan minuman seperti sari buah, selai, jelly, sirup,cuka , manisan dan dapat dibuat sebgai lauk pauk abon.

Teknologi pengolahan untuk membuat produk olahan dari buah semu jambu mete sebenarnya telah tersedia, namun teknologi ini belum dimanfaatkan. Pengolahan buah jambu mete akan memberikan nilai tambah dalam rangka meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani beserta keluarganya.

Hampir semua bagian dari tanaman jambu mete dapat digunakan untuk berbagai keperluan. Hasil utama tanaman mete adalah buahnya. Buah mete terdiri dari buah sejati (biji/kacang mete/gelondong mete) dan buah semu.

Perlakuan Pasca Panen

Untuk mendapatkan hasil panen berupa biji mete dan buah semu jambu mete dengan kualitas baik, kegiatan pemanenan perlu diatur sedemikian rupa sehingga kepentingan keduanya terpenuhi. Kualitas buah mete sangat dipengaruhi oleh tingkat kemasakan buah.

Jika buah mete yang memiliki kemasakan optimal (masak petik), maka biji metenya juga memiliki kualitas baik pula. Oleh karena itu, pemetikan buah mete sangat dianjurkan pada saat buah tersebut hampir jatuh atau gugur. Pada saat buah mete hampir jatuh atau gugur, biji mete telah tumbuh dan mencapai kemasakan sepenuhnya (Cahyono, 2001).

Pemetikan buah mete ini tidak dapat dilakukan sekaligus karena buah mete tidak masak bersamaan. Pemetikan dapat dilakukan setiap 3 – 5 hari selama 2 -3 bulan, tergantung pada banyaknya buah. Pemetikan diutamakan pada buah-buah yang sudah masak.

Buah-buah mete yang sudah mencapai derajat kemasakan optimal. Adapun tanda – tanda buah jambu mete siap petik, adalah sebagai berikut : warna buah tua optimal dan merata, cerah, serta mengkilat, menebarkan aroma harum, warna kulit biji putih keabua-abuan dan mengkilat.

Panen buah jambu mete dapat dipanen setelah berumur 60 – 70 hari hari sejak bunga mekar. Masa panen berlangsung selama empat bulan, yaitu pada bula Nopember – Februari tahun berikutnya.

Biji Mete
Hasil Utama tanaman jambu mete adalah buahnya. Buah mete terdiri dari atas buah sejati ( biji glondong) dan buah semu. Produk utama yang diambil dari tamanan jambu mete adalah bijinya (kacang mete) untuk memperoleh kacang mete dengan pengacipan (pengupasan kulit biji mete), dapat dilakukan secara manual dan semi mekanis.

Kacang mete ini yang biasa digunakan untuk campuran berbagai macam hidangan atau makanan karena rasanya gurih dan enak. Dalam proses pengacipan biji glondong mete ini disamping menghasilkan kacang mete dan menghasilkan kulit mete ( limbah kulit mate).

Limbah kulit biji mete juga dapat diolah menjadi minyak CNSL ( cashew nut shell liquid ) mempunyai nilai ekonomi tinggi, dapat digunakan sebagai bahan industri secara luas seperti minyak rem, industri cat, pernis dan lain – lain.

Buah Semu
Buah semu mete secara keseluruhan terdiri atas daging buah yang lunak dan mengandung air dalam jumlah yang relatif banyak. Buah semu jambu mete sebenarnya merupakan tangkai yang mengembung.

kendala yang sering muncul dalam proses pengolahan jambu mete disebabkan oleh 3 jenis unsur senyawa:

  • Senyawa tanin , senyawa ini yang menyebabkankan rasa sepat hingga pahit pada buah jambu mete. Pada saat buah masih muda konsentrasi tanin sangat tinggi (maksimal) , namun makin tua akan makin berkurang dan pada saat matang (di pohon) konsentrasi tanin minimal.
  • Senyawa asam anakardat, senyawa asam anakardat merupakan senyawa yang sering menyebabkan rasa gatal-gatal ditenggorokan dan merangsang batuk.
  • Senyawa polifenolat , senyawa polifenolat merupakan senyawa yang menyebabkan cairan hasil perasan buah jambu mete berwarna kebiruan.

Oleh karena itu, sebelum buah jambu mete diolah lebih lanjut menjadi berbagai makanan dan minuman, ketiga unsur senyawa tersebut harus dinetralkan terlebih dahulu.

Untuk menetralkan ketiga unsur senyawa tersebut, dengan beberapa perlakuan yaitu dengan perendaman memakai garam dapur 2 % selama 24 jam dan dikukus selama 20 menit, kemudian diolah lebih lanjut sesuai dengan keperluannya.

Pengolahan atau penanganan buah semu jambu mete dimaksudkan untuk menghindari kerusakan yang sekecil mungkin, mengingat buah semu jambu mete sangat mudah mengalami kerusakan, cepet menjadi lewat masak dan membusuk.

Pada kondisi suhu kamar, buah semu jambu mete umumnya hanya dapat disimpan maksimal 2 hari, supaya buah tersebut awet/ tahan lama perlu diolah secara komersial menjadi sirup,abon, sari buah, jelly dan lain-lain.

Dilihat dari komposisi atau kandungan gizinya, buah semu jambu mete mempunyai peluang nilai ekonomi. Walaupun demikian, sampai dengan saat ini buah semu jambu mete masih belum dimanfaatkan secara komersial, sehingga sumbangannya terhadap pendapatan petani masih sangat kecil.

(sumber gambar : www.bi.go.id)