Wilayah Indonesia yang didominasi oleh perairan laut yang luas merupakan bukti akan kayanya potensi laut Indonesia yang tidak hanya kaya rasa, tetapi juga sarat senyawa gizi dan non-gizi yang mampu meningkatkan kinerja proses metabolisme tubuh atau memperlambat proses deteriorasi organ-organ tubuh (dikenal sebagai pangan fungsional). Maka sudah sewajarnya apabila produk-produk pangan kita banyak di suguhi dengan berbagai macam hasil olahan laut.

Video Praktisi

Membuat Konsep Produk Coklat

Bangsa Jepang adalah salah satu contoh masyarakat yang kultur pangannya sangat diwarnai pangan dari laut. Teknologi proses pengolahannya yang berkembang pesat menghasilkan tingginya keragaman jenis produk, disamping terjaganya fungsi sebagai pangan fungsional. Tingginya keanekaragaman produk ini menyajikan alternative pilihan makanan yang digemari khususnya oleh anak-anak. Contoh makanan olahan ikan yang digemari anak-anak jepang adalah kamaboko dan furikake. Furikake adalah bumbu makanan asal Jepang yang berbentuk butiran, tepung, atau berserat. Bumbu ini ditaburkan di atas nasi dan dimakan sebagai lauk. Furikake merupakan olahan yang bersifat tahan lama dan dikonsumsi sebagai lauk praktis, karena dapat dimakan tanpa perlakuan terlebih dahulu. Furikake tidak dibuat sewaktu ingin dimakan, melainkan dibuat sekaligus dalam jumlah besar dan dimakan sedikit-sedikit di kemudian hari.

Sebenarnya di Indonesia dikenal produk yang serupa dengan furikake, yaitu abon yang saat ini telah mulai diolah dari bahan ikan bukan hanya daging sapi. Namun berbeda dengan abon yang didominasi oleh daging (hewan darat ataupun ikan) dengan hanya satu macam rasa, maka furikake merupakan olahan ikan kering yang diformulasikan atau dicampur secara menarik dengan berbagai macam bahan lain misalnya wijen, rumput laut, kedelai, dan sayuran kering (jenis  bahan campurannya bisa apa saja).

Formulasi ikan dengan bahan lain disamping meningkatkan nilai gizi keseluruhan produk juga meningkatkan daya tarik secara penampilan karena dihasilkan produk dengan kombinasi warna yang menarik. Bayangkan kombinasi warna yang tercipta dari abon berwarna coklat, rumput laut berwarna hijau, kedelai berwarna kuning, wortel kering berwarna orange dan lain-lain. Mungkin inilah kunci yang menyebabkan furikake bisa menarik dimata anak-anak. Mungkin kita bisa belajar dari Jepang,bagaimana jika abon kita formulasikan juga dengan bahan-bahan lain seperti yang dilakukan pada furikake. Pasti akan lebih menarik untuk anak-anak Indonesia. Hal ini juga bisa menjadi salah satu produk inovasi penganekaragaman abon yang berpeluang untuk dijadikan usaha. Pembuatannya simpel, yang pertama adalah membuat abon dan selanjutnya memformulasikan dengan bahan lain yang dikehendaki.

  • Proses Pembuatan Abon
  1. Merebus ikan bersama serai dan daun salam selama 10 menit, setelah empuk daging ikan disuir-suir
  2. Menambahkan campuran bumbu halus yang terdiri dari bawang merah, bawang putih, gula merah, ketumbar, lengkuas dan garam yang semuanya dilarutkan ke dalam santan untuk 200 gram daging ikan suir.
  3. Memanaskan campuran sampai santan agak mengering.
  4. Menambahkan minyak goreng dan melanjutkan pemanasan hingga abon kering dan berwarna kecoklatan.
  5. Setelah tahap pemanasan pada pembuatan abon selesai, abon yang masih mengandung minyak kemudian diperas dengan kain atau alat pengepres sehingga didapatkan abon kering.
  • Formulasi Furikake

Setelah abon jadi, maka dilanjutkan dengan memformulasikannya dengan bahan-bahan lain.
Contoh formulasi:

  1. abon
  2. wijen
  3. kedelai
  4. rumput laut kering/nori
  5. Sayuran kering (wortel)

Ditinjau dari aspek kesehatan, furikake bisa dibilang makanan yang kaya gizi dan bisa dikategorikan sebagai bahan fungsional. Bagaimana tidak, kombinasi dari bahan – bahan penyusunnya memiliki kandungan gizi yang berbeda-beda sehingga dapat saling melengkapi.

Ikan mengandung 18 persen protein terdiri dari asam-asam amino esensial yang tidak rusak pada waktu pemasakan. Kandungan lemaknya 1-20 persen lemak yang mudah dicerna serta langsung dapat digunakan oleh jaringan tubuh. Vitamin yang ada dalam ikan juga bermacam-macam, yaitu vitamin A, D, Thiamin, Riboflavin, dan Niacin. Ikan juga mengandung mineral yang kurang lebih sama banyaknya dengan mineral yang ada dalam susu seperti kalsium, phosphor, akan lebih tinggi dibandingkan dengan susu.

Biji wijen yang diformulasikan merupakan pangan fungsional yang kaya antioksidan sesaminol dan sesamolinol yang menjaga lemak tetap dalam bentuk yang tidak teroksidasi, mengandung 50-53% minyak nabati, 20% protein, 7-8% serat kasar, 15% residu bebas nitrogen, dan 4,5-6,5% abu dan vitamin E.

Kandungan rumput laut adalah mineral esensial (besi, iodin, aluminum, mangan, calsium, nitrogen dapat larut, phosphor, sulfur, chlor. silicon, rubidium, strontium, barium, titanium, cobalt, boron, copper, kalium, dan unsur-unsur lainnya), asam nukleat, asam amino, protein, mineral, trace elements, tepung, gula dan vitamin A, D, C, D E, dan K. Kedelai memiliki nilai gizi yang sangat baik dan memiliki cukup banyak vitamin dan mineral. Kadar protein kedelai cukup tinggi, yaitu mencapai 35,6 % (berat kering), bahkan pada varitas unggul kadar proteinnya dapat mencapai 40 % – 43 %. Sedangkan wortel diketahui kaya vitamin yang penting untuk menjaga kesehatan mata.

Wah lengkap bukan gizi yang disajikan dalam seporsi kreasi abon ini. Mari terus berkreasi  dan mengembangkan makanan yang bermutu dan bergizi untuk menciptakan generasi  Indonesia yang pintar.


(Sumber gambar:http://farm1.static.flickr.com/165/415567872_f678782bce.jpg)