pasar-unik-klitikan-jogjaSeperti sudah menjadi ciri khas tersendiri di Indonesia bahwa harga barang di pasar tradisional biasanya lebih ‘lunak’ kepada konsumen. Hal itu biasanya disebabkan karena biaya operasional para pedagang di pasar tradisional relatif kecil serta konsumen pun bisa melakukan penawaran harga sesuka hati mereka.

Video Praktisi

Tips Menghadapi Kompetitor, Owner Poyeng Knit Shop

Begitu juga suasana yang terjadi di Pasar Klithikan Pakuncen Jalan HOS Cokroaminoto Jogja. Banyak barang berkualitas baik yang bisa didapatkan secara murah di sini. Mulai dari pakaian, handphone, hingga barang-barang antik seperti jam atau perkakas kuno lain, bisa ditemukan jika kita mau sabar dan teliti menyusuri dan mengamati barang-barang yang dijual di tiap blok di pasar ini. Pasar Klithikan, bagi publik Jogja telah menjadi salah satu ikon pasar tradisional yang menyediakan berbagai macam barang dengan harga miring.

Pasar Klithikan Pakuncen ini sendiri baru menginjak usia satu tahun pada 11 November lalu. Sebelumnya, para penjual di Pasar Pakuncen itu adalah pedagang yang berlokasi di berbagai sudut kota Jogja seperti Asem Gede, Alun-alun Kidul (Alkid), dan paling banyak berasal dari Jalan Mangkubumi. Sejak setahun lalu, mereka direlokasi oleh pemerintah ke Pakuncen.

Nama ‘klithikan’, menurut Faturrachman (39), Ketua Kelompok Paguyuban Pasar Klithikan (Kompak) berasal dari celetukan yang mengalir dari keseharian pedagang pasar itu. Saat krisis moneter melanda Indoensia tahun 1998, PHK terjadi dimana-mana. Banyak pengusaha yang gulung tikar waktu itu. Fatur sendiri sebelumnya pernah membuka gerai yang menyediakan baju-baju muslim di depan kampus UII di Jalan Kaliurang pada tahun 1997. “Setelah dua tahun saya lalu bangkrut,” kenang pria dengan tujuh anak ini.

Beberapa orang di Jogja yang menjadi korban dari krisis itu lalu mencoba mencari alternatif pekerjaan. Ada yang buka angkringan atau membuka usaha lain seperti berjualan di lokasi-lokasi emperan strategis di Jogja. Salah satu emperan strategis waktu itu terletak di Jalan Mangkubumi. Di jalan itu orang-orang datang, memanfaatkan space kosong di depan toko-toko yang sudah tutup, dengan menggelar berbagai macam barang hanya dengan beralas sebuah tikar. Ada per (shockbreaker) motor, jam tangan kuno, baterai handphone, gelas atau piring kuno, dan lainnya yang mungkin bisa dijual. “Jika barang aneka macam itu di tata, bunyinya ‘klithik-klithik’. Lalu sering disebut pasar klithikan,” kenang Fatur.

Popularitas Klithikan sebagai pasar tradisional yang unik memang bukan isapan jempol belaka. Menurut Fatur, ketika para pedagang klithikan ini pameran di kantor Kedaulatan Rakyat, ada sepasang artis ibukota yang datang dan memborong perkakas-perkakas tua di gerai milik salah seorang penjual dengan harga total Rp20 juta. “Mereka langsung angkut barang-barang itu pakai mobil yang mereka bawa,” imbuh Fatur yang enggan menyebutkan nama pasangan artis senior itu.

Nilai barang-barang tua yang dijual di klithikan memang bisa menjebak. “Kadang, kalau pedagang itu minim pengetahuan tentang barang kuno, ia bisa rugi sangat besar,” kata Fatur. Seorang temannya sesama pedagang pernah menjual jam tua seharga Rp 50.000,00 kepada seseorang. Di kemudian hari tersiar kabar bahwa jam tua itu telah dijual kembali ke seorang kolektor Jakarta seharga 40 juta rupiah. Kontan berita itu menggegerkan para penjual di sepanjang jalan Mangkubumi itu. “Tapi peristiwa demikian tak terjadi sekali dua kali saja tapi sering, gara-gara banyak yang nggak paham soal barang antik,” imbuh lelaki yang sehari-harinya berdagang HP bekas itu.

Dengan kondisi itu, Fatur berharap mungkin pemerintah juga bisa memberi wadah untuk memberdayakan para pedagang dalam memperdalam pengetahuan mereka soal barang-barang tua yang antik dan bernilai. “Sebelum direlokasi dulu salah satu janji pemerintah itu akan membantu para pedagang dalam meningkatkan pengetahuannya soal barang-barang antik,” katanya.

Janji itu terealisasi setelah Pasar Pakuncen berjalan satu tahun. Akan ada pameran batu mulia dan barang antik di pasar ini tanggal 13-21 Desember 2008. Acara itu kerjasama para pedagang dan pemkot Yogyakarta untuk memperingati setahunnya Pasar Klithikan. Selain pameran ada juga kegiatan donor darah, belanja berhadiah, pentas dangdut, dan fun bike bersama Walikota Jogja.

Fatur menambahkan pengurus selalu mengajak teman-temannya untuk berdagang secara fair, jujur, dan terbuka. “Jangan sampai barang rusak dibilang baik. Itu akan menjatuhkan image pasar klithikan,”imbuhnya. Teliti juga barang dengan yang dibeli dengan seksama dan tawar dengan baik.

Bangunan Pasar Klithikan Pakuncen ini terdiri dari dua bagian. Lantai pertama merupakan zoning A1, B1, B2, C1, C2, dan D1. Lantai ini merupakan pusat dari pasar pakuncen sendiri. Setiap zoning punya karakteristik barang dagangan yang berbeda-beda. Mulai dari onderdil-onderdil motor atau mobil bekas, barang-barang kuno, hingga pakaian dan sepatu ada di lantai ini. Sementara di lantai dua (zoning A2) yang merupakan kawasan penjual dengan barang dagangan HP second dan alat-alat elektronik. “Kalau blok pakaian biasanya menjual barang-barang yang masih baru, selain itu hampir semua blok barang second,” imbuh Fatur yang sempat juga berjualan parfum itu.

Lokasi pasar ini termasuk strategis berada daerah yang sangat ramai di Jl. HOS Cokroaminoto.Untuk bisa sampai ke pasar ini banyak sekali transportasi umum perkotaan yang bisa digunakan. Umumnya, bus-bus atau mobil plat kuning melewati lokasi pasar ini. Namun, jika tertarik menggunakan kendaraan pribadi, pasar ini pun juga menyediakan lapangan parkir yang sangat luas.

sumber gambar : www.trulyjogja.com