Cendol Durian Istiqomah Setia Pertahankan Bahan Alami

Bisnis cendol durianTrend bisnis makanan dan minuman dengan toping durian makin dilirik pelaku usaha kecil. Salah satunya cendol durian buatan Istiqomah yang tetap eksis sejak 20 tahun terakhir tanpa menggunakan bahan pengawet.

Cendol durian produksi Istiqomah memang berbeda dengan cendol pada umumnya. Tak heran cendolnya laris, hingga omzet Rp 800 ribu bisa ia dapatkan sehari dari menjual 100 mangkok cendol seharga Rp 8 ribu per mangkok.

Untuk menghasilkan cendol yang enak dan sehat, Istiqomah membuat sendiri cendol tersebut menggunakan tepung beras yang baru digiling.

Begitu pun santan, dia tidak menggunakan santan instan yang banyak beredar di pasaran. Santan untuk cendol biasanya dia beli di tukang kelapa langsung sehingga ia bisa tahu kualitas kelapa yang diparut.

Baca Juga Artikel Ini :

Dulu Korban Penggusuran Kini Sukses Jadi Juragan Cendol

Dawet Ireng, Seger Bikin “Ngiler” Khas Purworejo

“Kalau pakai kelapa instan rasanya kurang enak. Lebih enak pakai kelapa yang baru diparut, santannya lebih segar,” ujarnya kepada BisnisUKM.com di kiosnya daerah Beji, Depok (28/5).

Selain menggunakan santan dari kelapa utuh, Istiqomah juga pantang menggunakan pewarna buatan untuk cendolnya. Warna hijau pada cendol buatannya berasal dari daun pandan yang baru dipetik.

“Saya lebih baik bikin sendiri. Kalau beli takut pakai bahan pengawet dan pewarna buatan,” ucap ibu tiga anak itu.

Dulu Hanya Pedagang Gerobakan

Peluang bisnis cendol durianKesetiaan menggunakan bahan alami pada cendol buatannya, membuat Istiqomah cukup punya banyak pelanggan. Ia yang dulu berjualan dengan gerobak, kini membuka kios di tempat keponakannya.

“Saya jualan dari masih pakai gerobak keliling. Alhamdulillah pelanggan banyak. Cendol saya manis karena pakai gula asli,” katanya.

Untuk menjaga rasa dan kepercayaan konsumen, Istiqomah juga tidak menggunakan penguat rasa buah pada cendolnya. Ia lebih memilih menggunakan durian asli sebagai toping. Dalam sehari, tak kurang 5-10 buah durian dia beli di pasar untuk dicampur dengan cendol buatannya.

“Karena tak pakai bahan pengawet, cendol buatan saya hanya kuat sehari kalau disimpan di kulkas,” jelasnya.

Harga Cendol Tetap Terjangkau

Memilih menggunakan bahan alami, diakui Istiqomah sangat berpengaruh dengan biaya produksinya yang lebih tinggi. Terlebih, sebentar lagi puasa sehingga harga-harga di pasar mengalami kenaikan. Tapi, itu tidak membuat ia latah menaikkan harga cendol buatannya. Terlebih banyak pembelinya adalah mahasiswa Universitas Indonesia (UI) dan Politeknik Negeri Jakarta (PNJ) yang kampusnya cukup dekat dengan kios cendolnya.

Ia tetap menjual cendol dengan harga terjangkau yaitu Rp 8000 per mangkok. Itu pun sudah termasuk tambahan sesendok ketan putih yang membuat rasa cendol semakin nikmat.

BINGUNG CARI IDE BISNIS ?
Dapatkan Ratusan Ide Bisnis Dilengkapi Dengan Analisa Usaha.
Klik Disini

“Lumayan sehari bisa jual 100 mangkok. Pembelinya banyak mahasiswa. Tadi, ada rombongan mahasiswa minum di sini. Ada sekitar 15 orang,” katanya lagi.

Lantaran banyak pembelinya mahasiswa membuat ia lebih paham politik. Bahkan, di gerobak cendol diberinya stiker bertuliskan, Mohon Maaf Kami Tidak Melayani Koruptor.

“Kalau tulisan itu buat lucu-lucuan aja. Lagian mana sempat koruptor makan cendol di sini?” ucapnya berkelakar.

Selain mahasiswa, pemilik kendaraan juga kerap mampir ke kiosnya. Pembeli memang cukup betah minum es di tempat Istiqomah, karena tempatnya yang teduh di bawah pohon dan bersih. Terlebih, dengan rasa es yang nikmat dan segar membuat pengunjung betah berlama-lama.

Tim Liputan BisnisUKM

(/Dunih)

Kontributor BisnisUKM.com wilayah Depok

1 Komentar

Comments are closed.