Puluhan Tahun Bisnis Kerajinan Sulam Untuk Kerabat Istana Kadriyah!

Sulaiman penjahit sulam kelengkang dan gemSulaiman (66) yang kerap disapa Sulai, sudah mulai bisnis kerajinan sulam kelengkang dan gem sejak umur 10 tahun. Ia mengaku  belajar langsung dari sang ibu, alm. Syech Salmah Al-Banser. Sampai sekarang, kegiatan itu masih ia tekuni dan menurun kepada para keponakan.

Dari tahun 1970an atau sejak zaman alm. Pangeran Jaya hingga Sultan Pontianak saat ini, Sultan Syarif Abubakar Alkadri, Sulai sudah dipercaya menjahit pakaian bagi semua kerabat Istana Kadriyah Pontianak. Jahitan yang rapi dan tahan hingga ratusan tahun membuat Sultan dan para kerabat Istana Kadriyah Pontianak mempercayakan pakaian kerajaan untuk dijahit Sulai.

Baca Juga Artikel Ini :

Kenalkan Motif Corak Insang Khas Melayu Lewat Baju Pria

Bawa Suri ke Pontianak, Kurniawati Produksi Kain Tenun Sambas

Saat ini, pakaian dari benang kelengkang tidak terbatas di kalangan kerabat raja saja tapi juga dapat dikenakan oleh masyarakat umum untuk menyambut tamu kebesaran. “Kecuali yang bermotif bintang-bulan, khusus bagi Sultan dan para kerabat Sultan Pontianak,” Sulai menerangkan.

Sulai mahir membuat kain singasana, kelambu pada Makam Batulayang (makam Kesultanan Pontianak), kelambu Sultan, pakaian Sultan hingga kelambu kerajaan Pontianak. Bahkan, Sulai juga dipercaya menjahit kelambu dan baju adat pengantin Melayu Pontianak di Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta.

Proses Pengerjaan Cukup Rumit

Sulaiman pengusaha baju tradisional PontianakBaju adat kelengkang terbuat dari bahan utama kain beledru dengan sulaman benang kelengkang perak dan gem emas yang diimpor langsung dari Singapura. Benang gem emas harus dipotong sesuai alur bunga. Untuk menjahit 1 set pakaian yang terdiri dari kain, baju, celana, kopiah, dan selendang, membutuhkan waktu selama satu bulan.

Harga jual 1 set pakaian Rp 10 juta. Omzet per bulan sekitar Rp 10 juta. Sulai mengaku, modal yang dikeluarkan juga cukup besar, terutama untuk benang kelengkang dan gem yang harus diimpor langsung dari Singapura dengan harga benang kelengkang per bungkus Rp 1,2 juta (isi 10 ikat).

“Untuk satu helai kain beludru memakai dua ikat benang kelengkang,” jelasnya.

Selain menjahit pakaian untuk kerabat kesultanan Pontianak, Sulai juga mendirikan Sanggar Melati di rumahnya dan berprofesi sebagai penata rias pengantin. Ia pun menjahit pakaian untuk pengantin pria dan wanita serta membuat sendiri pelaminan, dibantu dengan delapan orang karyawan yang terdiri dari empat karyawan lelaki dan empat karyawan perempuan. Khusus menjahit kelengkang, ia melakukannya berdua dengan keponakannya.

Sulai mulai merias pengantin sejak 1969, mengikuti almarhumah ibunya yang merupakan seorang penata rias pengantin Melayu. Sulai juga membuat sendiri pelaminan dan sudah melayani pemesanan ke seluruh Kalbar hingga ke kabupaten paling jauh di Kalbar, Kapuas Hulu. Ia juga sering diundang ke Sanggau, Putusibau, Nanga Silat, Ketapang, Ngabang, Melawi, hingga Jakarta.

BINGUNG CARI IDE BISNIS ?
Dapatkan Ratusan Ide Bisnis Dilengkapi Dengan Analisa Usaha.
Klik Disini

Bersama Sanggar Melati yang ia dirikan, Sulai telah mengikuti berbagai pameran di Pontianak, Singkawang, Sambas, dan Jakarta. Oktober nanti ia akan mengikuti pameran di Singkawang. Produk pakaian Kelengkang buatannya sudah dipesan oleh pembeli dari Jakarta, Kuching, hingga ke Australia.

Kendala Membuat Pakaian Tradisional

Pakaian tradisional PontianakSelain mengeluhkan minimnya perhatian Pemerintah Kota Pontianak terhadap penjahit tradisional seperti dirinya, Kendala lain yang ia hadapi adalah sulitnya mencari beludru kualitas terbaik, benang kelengkang, dan gem emas.

Karena menjahit kelengkang menggunakan tangan, Sulai mengatakan yang paling sulit adalah saat memotong benang kelengkang dan menyatukannya ke benang dan jarum. Sulai menceritakan, pernah benang Kelengkang bergulung ketika hendak dipasangkan ke jarum dan terpaksa harus diluruskan lagi agar menjadi satu dengan kain beledru. Proses yang sungguh tidak mudah.

Saat ini Sulai merupakan satu-satunya penjahit Kelengkang di Pontianak. Sulai berharap, ada penerus yang dapat menggantikannya untuk melestarikan pakaian tradisional ini agar tidak punah ditelan zaman.

Tim Liputan BisnisUKM

(/Vivi)

Kontributor BisnisUKM.com wilayah Kalimantan Barat

Leave a Comment

Bingung Cari Peluang Usaha?

Yuk Gabung Jadi Agen/ Mitra Waralaba