Pembangunan yang berkelanjutan banyak memberikan peluang bagi banyak orang. Apalagi ditunjang pendapatan yang semakin meningkat sehingga memberikan kesempatan untuk memenuhi kebutuhan utama, seperti properti.

Video Praktisi

Membangun Kerjasama Tim Bisnis Roti van Java

Dari hal inilah sebuah peluang muncul dalam pengadaan material utama pendukung dalam pembangunan properti yaitu batu bata.

Meskipun dewasa ini sudah ditemukan inovasi bahan pengganti batu bata dalam membuat dinding bangunan, tetapi sebagian besar masyarakat masih menggunakan batu bata.

Muhammad Yusuf, laki-laki kelahiran Tanjung Pinang ini pada Mei 2008 mencoba mengembangkan usaha batu bata yang dipercayakan oleh kakaknya untuk mengambil peluang seiring dengan pesatnya perkembangan kota Pekanbaru.
Bersama beberapa pengusaha batu bata lainnya, suami dari Fauziah ini bergabung dalam sebuah komunitas pengusaha batu bata yang berkomitmen menjaga usaha ini berjalan dengan baik.

Proses Produksi Batu Bata

Saat ini dengan tungku pembakaran berkapasitas 20ribu batu bata, dalam 2 bulan 3x pembakaran bisa menghasilkan +/- 200ribu batu bata sesuai permintaan. Krisis global berpengaruh terhadap turunnya permintaan sehingga untuk menghabiskan 70ribu batu bata diperlukan waktu +/- 1.5bulan.

Dalam proses produksinya, untuk produksi 70ribu batu bata dibutuhkan tanah liat sebanyak ½ bak truk (sedang). Sedangkan untuk pembakarannya dibutuhkan kayu bakar sebanyak 1.5 bak truk dengan harga Rp1juta/truk, Rp500ribu untuk kayu dan Rp500ribu untuk transport.

Dalam operasional usaha batu bata ini, Yusuf mempekerjakan 1 orang manajer dan 2 orang tenaga tetap. Manajer diberi gaji 1.5juta/bulan dan untuk tenaga tetap dibayar berdasar jumlah batu bata yang dicetak yaitu Rp27,-/batu bata/orang dan fasilitas tempat tinggal.

Setiap kali pembakaran dibayarkan Rp1juta untuk sekali pembakaran,berapapun jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan. Pada proses pembuatannya, awalnya tanah yang sudah disiapkan, dimasukkan ke dalam mesin. Tanah diaduk dan dipadatkan kemudian dicetak berbentuk persegi panjang.

Supaya tanah lebih liat dan padat, ditambahkan air dan minyak sawit +/-1 sendok. Cetakan tanah yang keluar dari mesin berbentuk memanjang tersebut dipotong-potong secara manual. Setelah tanah tercetak, disusun dan dikeringkan di suatu tempat atau di dekat tungku.

Setelah tungku dikosongkan dari pembakaran sebelumnya, cetakan dimasukkan dan dibakar. Proses pembakaran membutuhkan waktu 4hari tanpa berhenti.

Harga Terpengaruh Krisis Global

Batu bata yang diproduksinya berukuran sedang, berukuran 5x10x20cm yang dijual dengan harga Rp 230-Rp240,- per buah. Keuntungan yang diperoleh bisa mencapai 120% dari biaya produksi.Hanya saja, dengan terjadinya krisis global yang membuat harga anjlok sampai Rp140,- per buah. Kaitannya?

Sebagian pendapatan masyarakat berasal dari usaha kelapa sawit, sehingga saat harga sawit jatuh, hal ini berpengaruh terhadap rencana pembangunan properti mereka. Hal ini juga terjadi pada proyek pemda yang sebagian besar diperoleh dari bisnis sawit.

Sehingga tak sedikit pengusaha2 batu bata yang menurunkan harga bahkan beberapa diantaranya usahanya ditutup.
Para konsumennya menilai,keunggulan dari batu bata produksi Yusuf mempunyai cetakan lebih rapi sehingga mereka selalu repeat order.

Demi menjamin kualitas batu bata produksinya, laki-laki yang pernah kuliah di ITB dan UGM ini mendisiplinkan karyawannya dengan tidak membayarkan upah untuk batu bata yang rusak atau pemotongan gaji manajernya karena lalai mengontrol  kondisi mesin yang rusak.

Konsumen dari produk batu batanya antara lain kontraktor,developer atau masyarakat umum dengan minimal order 10ribu batu bata. Dengan pengalamannya di MLM yang cukup berharga, Yusuf selalu melakukan negosiasi kepada para pelanggannya,terutama pada saat krisis global saat ini. Untuk pengantaran, Yusuf membatasi sampai radius 120km2 dan biaya transportasi Rp80,-/batu bata.

Kendala Usaha

Kendala yang dihadapi selama menjalankan usaha ini tidak terlalu besar, sama seperti usaha pada umumnya. Hanya saja dampak krisis global yang melanda saat ini benar2 sangat terasa.

Proses pembangunan properti masyarakat dan swasta terhenti karena dana tersendat,begitu juga proyek2 pemerintah daerah. Apalagi Yusuf baru saja mengeluarkan dana untuk pengembangan lahan baru dan terhenti karena krisis global.

Rencana pengembangan usaha ke depan setelah kondisi keuangan pulih pasca krisis,belajar dari pengalaman tersebut, proyek lahan baru akan ditunda. Yusuf berencana mengembangkan divisi tranportasi dengan memiliki truk angkutan yang bisa menghemat biaya pengangkutan kayu +/-Rp3 juta/bulan dan bisa memberikan pemasukan baru dari usaha penyewaan truk.

Jadi,selama masih ada rencana pembangunan fisik dan prasarana lain, usaha pembuatan batu bata masih cukup menjanjikan.

Simulasi Usaha Pembuatan Batu Bata

Asumsi : keuntungan per bulan berdasarkan penjualan 70.000 batu bata dengan harga normal Rp. 230

Pengeluaran
Tanah Liat   : ½ truk x  Rp. 800.000       = Rp.      400.000
Kayu bakar : 1 ½ truk x Rp. 1.000.000 = Rp.   1.500.000
Transportasi : 1 bulan x Rp. 3.000.000= Rp.   3.000.000
Manajer : 1 orang x Rp. 1.500.000          = Rp.   1.500.000
Karyawan : 2 orang x 70.000 x 27          = Rp.   3.780.000
Total Pengeluaran                                            = Rp. 10.180.000

Pendapatan
Penjualan : 70.000 x Rp. 230 = Rp. 16.100.000
Total pendapatan                          = Rp. 16.100.000
Keuntungan : Rp. 16.100.000 – Rp. 10.180.000 = Rp. 5.920.000